Pelayanan Dasar Gizi

Menurut Soekirman (2000) pelayanan dasar adalah pelayanan utama yang harus diberikan kepada golongan masyarakat yang rawan terhadap risiko kurang gizi dan terserang penyakit.  Kelompok   tersebut adalah wanita, balita dan usia lanjut. Pelayanan  untuk wanita meliputi pelayanan  kepada wanita remaja calon ibu, wanita hamil, wanita nifas dan wanita menyusui.

Di negara berkembang seperti di Indonesia, apabila ditelusuri ke belakang, status  gizi  kurang  dan  buruk  pada  balita  ada  hubungannya  dengan  status  gizi ibunya ketika masih remaja. Pada usia remaja terjadi perubahan fisik yang cepat. Oleh  karena  itu,  mereka  harus  didukung  oleh  keadaan  gizi  kesehatan  yang optimal. Menurut hasil Survey Kesehatan Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dari Departemen  Kesehatan tahun 1995; 39% remaja wanita menderita KEP tingkat ringan dan 15.8% KEP buruk. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pada remaja laki-laki. Remaja wanita juga menderita anemi sebesar 49.2% dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) sebesar 29.6%.

Pelayanan    dasar    yang    diberikan    kepada    wanita    biasanya    berupa pengetahuan  tentang  cara  memelihara  dan  meningkatkan  kesehatan  diri  dan keluarga, mengatur gizi seimbang dan pentingnya keluarga berencana. Selain itu, mereka  disiapkan  secara  fisik dengan  memberikan  imunisasi  pada  waktu  akan menikah dan jika perlu untuk penderita anemi besi diberikan suplemen pil zat besi atau  tablet  tambah  darah  (TTD),  pelayanan  pendidikan  gizi,  kesehatan  dan Keluarga   Berencaan   (KB).  Pelayanan   ini  dapat  diberikan   melalui  berbagai program  seperti  usaha  perbaikan  gizi  keluarga  (UPGK),   program  makanan

 

 

tambahan  anak sekolah  (PMT-AS),  kesehatan  sekolah,  kesehatan  keluarga  dan melalui kegiatan rutin puskesmas.

Pelayanan  dasar yang diberikan  untuk  ibu hamil  dan meyusui  terutama berupa   pemeriksaan    kehamilan   dan   sebelum   persalinan   (prenatal   care), pertolongan   persalinan   dan   pelayanan   pasca   persalinan   (post-natal   care). Pelayanan gizi dasar bagi ibu hamil dan menyusui dapat berupa penyuluhan gizi seimbang,  pemantauan  pertambahan  berat  badan  waktu  hamil,  suplemen  zat yodium, suplemen pil zat besi dan suplemen energi dan protein. Salah satu pengetahuan gizi yang harus ditanamkan kepada ibu hamil adalah mengenai pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Pada masa setelah melahirkan, selain pengetahuan  tentang ASI, diperlukan  pengetahuan  tentang pentingnya  makanan pendamping ASI (MP-ASI) sesudah bayi berumur 4 bulan. Pelayanan ini dapat dilaksanakan   melalui  program  UPGK,  Posyandu,   Puskesmas   dan  kesehatan keluarga atau program khusus lainnya.

Pelayanan dasar bagi balita (0-5 tahun) terutama ditujukan untuk menjaga agar pertumbuhan  potensional  (berat  badan  dan tinggi  badan)  anak sejak  lahir dapat  berlangsung  normal,  demikian  juga  daya  tahannya  terhadap  penyakit. Dengan pertumbuhan  fisik yang normal, perkembangan  mental dan kecerdasan anak juga dapat dipicu dengan lingkungan hidup yang baik dan pola pengasuhan yang mendukung. Untuk itu pelayanan dasar bagi balita meliputi pemberian imunisasi,  pendidikan  dan  penyuluhan  gizi  pada  ibu,  menciptakan  lingkungan yang bersih, penyediaan fasilitas stimulasi perkembangan mental dan kecerdasan anak dan penyediaan oralit untuk mengurangi bahaya penyakit diare.

Pelayanan dasar gizi dan kesehatan untuk anak balita dapat dilaksanakan melalui Posyandu, Puskesmas, program kesehatan keluarga dan program lain. Berbagai lembaga pelayanan dasar tersebut harus bisa terjangkau baik secara fisik (mudah  dicapai)  maupun  ekonomi  (sesuai  daya  beli)  oleh  setiap  keluarga, termasuk mereka yang miskin dan tinggal di daerah terpencil.

Pelayanan Dasar Gizi | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *