Pemerintah Diminta Dukung Pengembangan Obat Herbal

Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPJI) minta pemerintah mendukung pengembangan obat herbal berbahan baku sumber daya hayati yang banyak terdapat di Indonesia.

“Kami minta ada dukungan nyata dari pemerintah dalam pengembangan obat herbal, terutama yang berbahan baku lima tanaman unggulan seperti jahe, temulawak, kencur, pegagan, dan sambiloto,” kata Ketua GPJI, Dr Charles Saerang di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, dukungan tersebut dapat berupa pengujian klinis agar tanaman itu diakui di dunia sebagaimana gingseng dari Korea.

“Upaya ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak hanya sekedar punya tanaman obat, namun tanaman itu menjadi komoditi unggulan dan terkenal,” katanya.

Ia mengatakan selain itu pemerintah pusat dan daerah dapat mendukung dengan memasukkan obat herbal dalam pengobatan di klinik-klinik kesehatan terutama milik pemerintah.

“Jika pemerintah melalui Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan bersedia memasukkan obat herbal dalam pengobatan, kami yakin ini akan mendorong pengembangan obat herbal,” katanya.

Charles mengatakan saat ini baru Dinas Kesehatan Jawa Tengah yang telah memasukkan obat herbal dalam pengobatan di puskesmas, dan ini merupakan terobosan yang positif.

Selain itu, menurut dia, pemerintah pusat dan daerah sebenarnya bisa mengambil kebijakan dengan mewajibkan setiap instansi mengganti minuman pegawai dengan minuman berbahan baku tanaman obat tersebut.

“Jika pemerintah mewajibkan setiap Jumat para pegawai harus mengenakan pakaian batik, tentunya pemerintah dapat mewajibkan mengganti minuman teh maupun kopi dengan minuman jahe, asem Jawa atau beras kencur yang memiliki khasiat bagi kesehatan,” katanya.

Jika kebijakan tersebut dapat terwujud, tentu petani tanaman obat tidak lagi kesulitan dalam memasarkan produk tanamannya.

Ia mengatakan selain itu pemerintah juga dapat mendorong perlu dibuka program pendidikan pengobatan yang menggunakan bahan baku alami di perguruan tinggi, untuk lebih mengembangkan tanaman obat secara ilmiah.

“Saat ini baru satu perguruan tinggi yang telah membuka program pendidikan pengembangan tanaman obat yakni UGM (Universitas Gadjah Mada), meskipun baru tingkat diploma tiga,” katanya.

Sedangkan di Taiwan saat ini sudah ada 21 perguruan tinggi yang mengembangkannya, begitu pula Malaysia telah melakukan hal yang sama,” katanya.

Ia mengatakan dengan langkah seperti itu nantinya tidak ada lagi benturan antara pengobatan modern dan pengobatan yang menggunakan tanaman obat, karena masing-masing memiliki disiplin ilmu sendiri.

“Diharapkan nantinya dapat berjalan beriringan antara klinik kesehatan modern dan klinik kesehatan yang menggunakan tanaman obat, dan tentunya dengan tenaga medis yang telah menggeluti disiplin ilmu masing-masing,” katanya.

Pemerintah Diminta Dukung Pengembangan Obat Herbal | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *