PEMIKIRAN FILSAFAT THOMAS KUHN DALAM REVOLUTION OF SCIENCE

PEMIKIRAN FILSAFAT THOMAS KUHN

DALAM REVOLUTION OF SCIENCE

 

 

Mata Kuliah :

Filsafat Ilmu Bahasa

 

 

Dosen Pengampu:

Drs. H. M. Zainuddin M.A

 

 

Oleh:

 

Abdul Fathah    152740002

 

JURUSAN DOKTOR PENDIDIKAN BAHASA ARAB

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2016

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Studi filsafat harus membatu orang-orang dalam membangun keyakinan keagamaan berdasarkan kematangan intelektualitas. Filsafat dapat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, sempit dan dogmatis.

Filsafat tidak hanya diketauhi, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup sebagai manusia yang baik dan bahagia. Bisa digaris bawahi tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam hal logika (kebenaran berfikir), etika (berperilaku), maupun meta fisik (hakikat keaslian)[1].

Pengetahuan yang di sempurnakan maka di sebutlah dengan ilmu, ilmu memiliki dua macam objek material dan objek formal[2], sedangkan sejarah jika dipandang lebih sebagai khasanah daripada sebagai kronologi, dapat menghasilkan transformasi yang menentukan dalam citra sains yang merasuki kita sekarang. Citra itu telah dibuat sebelumnya , bahkan oleh para ilmuwan sendiri, terutama dari studi tentang pencapaian ilmiah yang tuntas seperti yang direkam dalam karya-karya klasik dan, yang lebih baru, dalam buku-buku teks yang dipelajari oleh setiap generasi ilmuwan yang baru untuk mempraktekkan kejujurannya[3].

Thomas Kuhn telah menggunakan sejarah sebagai dasar untuk menyusun gagasan paradigmanya. Sejarah telah membantunya untuk menemukan konstelasi fakta, teori, dan metode-metode yang tersimpan di dalam buku-buku teks sains. Dengan jalan begitu, Kuhn menemukan suatu proses perkembangan teori yang kemudian disebutnya sebagai proses perkembangan paradigma yang bersifat revolusioner.

Apa yang disebut dengan filsafat ilmu baru ini dimulai dengan terbitnya karya Kuhn The Structure of Scientific Revolutions. Tulisan ini mempunyai arti penting dalam perkembangan filsafat ilmu, tidak saja karena keberhasilannya membentuk dan mengembangkan wacana intelektual baru dalam filsafat ilmu, tetapi juga kontribusi konseptual yang memberi insight dalam berbagai bidang disiplin intelektual dengan derajat sosialisasi dan popularitas yang jarang dapat ditandingi. Banyak ilmuwan, kata Barbour, merasa at home dengan karya tersebut, karena ia seringkali memberikan contoh konkrit dari sejarah sains dan tampaknya mendeskripsikan sains sebagaimana mereka mengetahuinya, dan mengundang sikap kritis terhadap disiplin ilmu yang ditekuni.

Dalam hal apa dan bagaimana karya Kuhn memberi pencerahan intelektual, secara epistemologis menjadi penting untuk dijawab. Terlepas dari keterkaitannya dengan sains-sains natural dan sains-sains behavioral, wilayah disiplin keilmuan tersebut yang dikembangkan gagasannya oleh Kuhn[4].

Ciri khas yang membedakan model filsafat ilmu baru ini dengan model yang terdahulu adalah perhatian besar terhadap sejarah ilmu, dan peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksikan wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi[5].

Untuk itu, penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang pemikiran Thomas Kuhn khususnya dalam hal revolusi sains.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah  yang dimaksud dengan paradigma revolusi sains?
  2. Apakah urgensi sejarah ilmu menurut pandangan Kuhn?
  3. Bagaimanakah siklus paradigma revolusi sains?
  4. Bagaimanakah kritik terhadap pemikiran Kuhn?

 

  1. Tujuan Pembahasan
    1. Mengetahui pengertian paradigma revolusi sains.
    2. Mengetahui urgensi sejarah ilmu menurut pandangan Kuhn.
    3. Mengetahui siklus paradigma revolusi sains.
    4. Mengetahui kritik terhadap pemikiran Kuhn.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian paradigma revolusi sains

1)      Paradigma

Paradigma dimbil dari bahasa Inggris, paradigm. Dari bahasa Yunani, para deigma dari kata para (di samping, di sebelah), dan dekynai ( memperlihatkan; yang berarti model, contoh, arketipe, ideal)[6].

Bebarapa pengertian lain adalah :

1. Cara memandang sesuatu.

2. Dalam ilmu pengetahuan : Model, pola, ideal. Dari model- model ini, fenomena yang dipandang , dijelaskan.

3. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Paradigma merupakan   konstruk berpikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah, yang dalam konseptualisasi khun menjadi wacana untuk temuan ilmiah baru[7].

Paradigma merupakan konsep sentral yang dibahas oleh Kuhn. Istilah ini  tidak dijelaskan secara konsisten, sehingga dalam berbagai keterangannya sering berubah konteks dan arti, dalam hal ini Kuhn mengartikan paradigma dengan beberapa pengertian sebagai berikut:

–          Paradigma merupakan contoh praktek ilmiah nyata yang diterima  yang mencakup dalil, teori, penerapan dan instrumentasi yang dari padanya lahir tradisi-tradisi tertentu dan riset ilmiah.

–          Paradigma adalah kerangka referessi yang mendasari sejumlah teori maupun praktek ilmiah dalam periode tertentu[8].

Dalam pandangan Kuhn, kebenaran sains itu relatif dan sangat tergantung pada social factor yag berupa masyarakat ilmuwan. Sains tidak bisa memberikan kebenaran sui-generis, kebenaran objektif dan satu-satunya. Ia hanya memberikan kebenaran tentatif[9]. Dengan itu Kuhn menyatakan bahwa ilmu tidak terlepas dari fakor ruang dan waktu[10].

Kuhn mengatakan paradigma yang dimaksudkan tidak sama dengan“model” atau “pola”, melainkan lebih dari itu.Paradigma dalam pandangan Kuhndigunakan dalam dua arti. Pertama, sebagai keseluruhan konstelasi, nilai danteknik, dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas ilmiah tertentu. Kedua, sejenis unsur dalam konstelasi tersebut, pemecahan teka-teki yangkonkret, yang digunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar teka-teki sains yang normal, yang masih tersisa[11].

 

2)      Revolusi

Secara umum,  revolusi mencakup jenis perubahan apapun yang memenuhi syarat- syarat tersebut. Misalnya revolusi Perancis yang mengubah wajah dunia menjadi modern. Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula revolusi Perancis, kemudian revolusi Amerika. Namun, revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti revolusi Perancis. Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Maka konsep revolusi kemudian sering dipilih menjadi dua : revolusi social dan revolusi nasional[12].

Revolusi adalah proses menjebol tatanan lama sampai ke akar-akarnya, kemudian menggantinya dengan tatanan yang baru sama sekali.

Revolusi sains merupakan episode perkembangan non-kumulatif, di mana paradigma lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang bertentangan. Transformasi-transformasi paradigma yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainya melalui revolusi. Adalah pola perkembangan yang biasa dari sains yang telah matang. Jalan revolusi sains menuju sains normal bukanlah jalan bebas hambatan[13].

Dalam pemilihan paradigma tidak adastandar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains dipengaruhi, tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika saja, tetapi juga tehnik-tehnik argumentasi persuasif dan efektif didalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu[14].

3)      Sains

Pengertian  sains /ilmu menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :

–          Ashley Montagu menyebutkan bahwa “Science is a systemized knowledge services form observation, study, and experiment carried on under determine the nature of principles of what being studied.” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari).

–          Harold H. Titus mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).

Jadi Paradigma Revolusi Sains adalah Perubahan mendasar yang merupakan episode perkembangan non-kumulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang ber-tentangan, karena adanya fakta-fakta ilmiah yang tidak sesuai dengan kenyataan[15].

 

 

 

  1. Urgensi Sejarah Ilmu Menurut Pandangan Kuhn

Bagi Kuhn sejarah ilmu merupakan starting point dan kaca mata utamanya dalam menyoroti permasalahan-permasalahan yang fundamental dalam epistemologi, yang selama ini masih menjadi teka-teki. Dengan kejernihan pikiran, ia menegaskan bahwa sains pada dasarnya lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya.

Karena begitu antusiasnya kepada kesadaran akan pentingnya sejarah dan khususnya sejarah ilmu, ia mengklaim bahwa filsafat ilmu sebaiknya berguru kepada sejarah ilmu yang baru. Gagasan Kuhn ini sekaligus merupakan tanggapan terhadap pendekatan Popper pada filsafat ilmu pengetahuan. Menurut Kuhn, Popper menjungkir balikkan kenyataan dengan terlebih dahulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesis yang disusul dengan upaya falsifikasi. Namun justru Popper menempatkan sejarah ilmu pengetahuan sebagai contoh untuk menjustifikasi teorinya[16].

Hal ini sangat bertolak belakang dengan pola pikir Kuhn yang lebih mengutamakan sejarah ilmu sebagai titik awal segala penyelidikan. Dengan demikian filsafat ilmu diharapkan bisa semakin mendekati kenyataan ilmu dan aktivitas ilmiah sesungguhnya. Jika hal ini dilakukan maka jelaslah bahwa terjadinya perubahan-perubahan yang mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau sistem, melaikan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Dengan demikian Kuhn beranggapan bahwa kemajuan itu pertama-tama bersifat revolusioner, bukan maju secara kumulatif[17].

Dengan konsep pemikiran ini, Kuhn tidak hanya sekedar memberikan kontribusi besar dalam sejarah dan filsafat ilmu saja, tetapi lebih dari itu, teori-teori yang digagasnya mempunyai implikasi yang luas dalm ilmu-ilmu sosial, seni dan lain sebagainya.

 

  1. Siklus Paradigma Revolusi Sains

Istilah paradigma menjadi begitu popular setelah diintroduksikan oleh ThomasKuhn melalui bukunya The Structure of Scientific Revolution yang membicarakan tentang Filsafat Sains. Khun menjelaskan bahwa siklus revolusi sains  adalah: Paradigma awal, Normal Sains, Anomali, Krisis, Revolusi Sains, Paradigma Baru.

1)      Paradigma Awal

Paradigma pada saat pertama kali muncul itu sifatnya masih sangat terbatas, baik dalam cakupan maupun ketepatannya. Paradigma memperoleh statusnya karena lebih berhasil dari pada saingannya dalam memecahkan masalah yang mulai diakui oleh kelompok ilmuwan bahwa masalah-masalah itu rawan,  maka ilmuwan dalam hal ini bersaing mengumpulkan fakta tanpa menghiraukan kaidah-kaidah teoritisnya. Pada tahap ini terdapat sejumlah aliran yang saling bersaing, tetapi tidak ada satupun aliran yang memperoleh penerimaan secara umum. Namun perlahan-lahan salah satu sistem yang teoritikal mulai memperoleh penerimaan secara umum dan dengan itu paradigma pertama sebuah disiplin terbentuk, dan dengan terbentuknya paradigma itu kegiatan ilmiah sebuah disiplin memasuki periode Normal Sains.

Konsep sentral Kuhn adalah apa yang dinamakan dengan paradigma. Istilah ini tidak dijelaskan secara konsisten, sehingga dalam berbagai keterangannya sering berubah konteks dan arti. Pemilihan kata ini erat kaitannya dengan sains normal, yang oleh Kuhn di maksudkan untuk mengemukakan bahwa beberapa contoh praktik ilmiah nyata yang diterima (yaitu contoh-contoh yang bersama-sama mencakup dalil, teori, penerapan dan instrumentasi) menyajikan model-model yang melahirkan tradisi-tradisi padu tertentu dari riset ilmiah[18]. Atau ia dimaksudkan sebagai kerangka referensi yang mendasari sejumlah teori maupun praktik-praktik ilmiah dalam periode tertentu.

Paradigma ini membimbing kegiatan ilmiah dalam masa sains normal, di mana ilmuwan berkesempatan mengembangkan secara rinci dan mendalam, karena tidak sibuk dengan hal-hal yang mendasar. Dalam tahap ini ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktifitas ilmiahnya, dan selama menjalankan riset ini ilmuwan bisa menjumpai berbagai fenomena yang disebut anomali. Jika anomali ini kian menumpuk, maka bisa timbul krisis. Dalam krisis inilah paradigma mulai dipertanyakan. Dengan demikian sang ilmuwan sudah keluar dari sains normal. Untuk mengatasi krisis, ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau mengembangkan sesuatu  paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi ilmiah[19].

Beberapa contoh kasus paradigma awal diantaranya :

–          Keberhasilan sebuah paradigma semisal analisis Aristoteles mengenai gerak, atau perhitungan Ptolemaeus tentang kedudukan planet, atau yang lainnya. Pada mulanya sebagian besar adalah janji akan keberhasilan yang dapat ditemukan contoh-contoh pilihan dan yang belum lengkap. Dan ini sifatnya masih terbatas serta ketepatannya masih dipertanyakan. Dalam perkembangan selanjutnya, secara dramatis, ketidak berhasilan teori Ptolemaeus betul-betul terungkap ketika muncul paradigma baru dari Copernicus[20]. Ptolemeus mengatakan bahwa bumi tidak bergerak, matahari dan bintang-bintanglah yang bergerak mengelilingi bumi. Saat itu para tokoh agama dan dosen-dosen universitas di seluruh Italia mengganggap ajaran Aristoteles dan Ptolemeus adalah ajaran yang paling benar. Karena, mereka salah menafsirkan sepenggal ayat yang tedapat dalam Kitab Suci. Sementara itu, Galileo tetap mempertahankan teorinya dan mendukung teori Copernicus yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Akibatnya, ia ditangkap para tokoh agama, diadili, dan dijatuhi hukuman sebagai tahanan rumah. Galileo meninggal pada usia 78 tahun di Arcetri pada tanggal 8 Januari 1642 karena demam. Namun, meskipun demikian teori-teorinya tetap dipakai seluruh orang di dunia hingga kini.

–          Pada bidang fisika, mula-mula cahaya dinyatakan sebagai foton, yaitu maujud mekanis kuantum yang memperlihahatkan  beberapa karasteristik gelombang dan partikel. Teori ini menjadi landasan rist selanjutnya, yang hanya berumr setengah abad ketika muncul teori baru dari Newton yang mengajarkan bahwa cahaya adalah partikel yang sangat halus. Teori ini sempat diterima oleh hampir semua pemraktik sains optika, namun kemudian muncul teori baru yang bisa dikatakan lebih unggul yang digagas oleh Young dan Fresnel pada awal abad ke-19 yang selanjutnya dikemabngkan oleh Panck dan einsten, yaitu bahwa cahaya adalah gerakan gelombang transversal.

Berbagai transformasi paradigma semacam ini adalah revolusi sains, sedangkan transisi yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui revolusi adalah pola perkembangan yang biasa dan sains yang telah matang.

2)      Normal Sains

Kuhn menyebut Normal Sains sebagai suatu kegiatan penelitian yang secara teguh berdasarkan satu atau lebih pencapaian ilmiah di masa lalu yakni pencapaian-pencapaian yang oleh komunitas ilmiah pada suatu masa dinyatakan sebagai pemberi landasan untuk praktek selanjutnya[21]. Normal Sains memiliki dua esensi yakni:

(1)   Pencapaian ilmiah itu cukup baru sehingga menarik para praktisi ilmu dari berbagai aliran, menjalankan kegiatan ilmiah, maksudnya dihadapkan pada berbagai alternatif cara menjalankan kegiatan ilmiah. Sebagian besar praktisi ilmu cenderung untuk memilih dan mengacu pada pencapaian itu dalam menjalankan kegiatan ilmiah mereka.

 

(2)   Pencapaian itu cukup terbuka sehingga masih terdapat berbagai masalah yang memeprlukan penyelesaian oleh praktisi ilmu dengan mengacu pada pencapaian-pencapaian itu. Kuhn berpendapat bahwa kemajuan ilmu itu pertama-tama bersifat revolusioner dan tidak bersifat evolusioner atau kumulatif.

 

Normal Sains bekerja berdasarkan paradigma yang dianut atau yang berlaku, oleh karena itu pada dasarnya penelitian normal tidak dimaksudkan untuk pembaharuan besar melainkan hanya untuk mengartikulasi paradigma itu. Kegiatan ilmiah Normal Sains hanya bertujuan untuk menambah lingkup dan presisi pada bidang-bidang yang terhadapnya paradigma tersebut dapat diaplikasikan. Jadi Normal Sains adalah jenis kegiatan ilmiah yang sangat restriktif dan keuntungannya adalah bahwa kegiatan ilmiah yang demikian itu akan semakin memberikan hasil yang mendalam. Para ilmuwan dalam Normal Sains biasanya bekerja dalam kerangka seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigm dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu. Dengan demikian, kegiatan ilmiah dalam kerangka ilmu noprmal adalah seperti kegiatan memecahkan teka teki atau diistilahkan “puzzle solving”. Implikasinya adalah bahwa kegagalan menghasilkan suatu solusi terhadap masalah tertentu lebih mencerminkan tingkat kemampuan ilmuwannya ketimbang sifat dari masalah yang bersangkutan atau metode yang digunakan.

 

3)      Anomali dan Munculnya Penemuan Baru.

Data anomali berperan besar dalam memunculkan sebuah penemuan baru yang diawali dengan kegiatana ilmiah. Dalam hal ini Kuhn menguraikan dua macam kegiata ilmiah yaitu puzzle solving dan penemuan paradigma baru.

Dalam puzzle solving, para ilmuwan membuat percobaan dan mengadakan observasi yang tujuannya memecahkan teka-teki bukan untuk mencari kebenaran. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan  penting atau malah mengakibatkan konflik, maka suatu paradigma baru harus diciptakan. Dengan demikian kegiatan ilmiah selanjutnya diarahkan pada penemuan paradigma baru, dan jika penemuan bari ini berhasil maka akan terjadi perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.

Penemuan baru bukanlah peristiwa terasing, melaikan episode-episode yang diperluas dengan struktur yang berulang secara teratur. Penemuan diawali dengan kesadaran adanya anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal. Kemudian ia berlanjut dengan eksplorasi yang sedikit banyak diperluas pada wilayah anomali. Dan itu hanya berakhir jika  teori atau paradgma itu telah disesuaikan, sehingga yang menyimpang itu menjadi yang diharapkan. Jadi yang jelas dalam penemuan baru nharus ada penyesuaian antara fakta dan teori yang baru. Kuhn membedakan antara istilah discovery dan invention. Discovery adalah kebaruan faktual (penemuan), sedang invention adalah kebaruan teori (penciptaan) yang mana keduanya saling terjalin erat dalam penemuan ilmiah[22].

Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru baik yang tidak sesuai dengan skema yang ada (data anomali), adakalanya seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang ia miliki. Pengalaman yang baru ini bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan paradigma yang ada. Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan mengadakan akomodasi, yaitu membentuk skema baru yang dapat sesuai dengan rangsangan yang baru, atau modifikasi skema yang ada sehingga sesuai dengan data anomali itu. Inilah yang disebut revolusi skema[23].

 

 

 

4)      Krisis Sains.

Perubahan yang melibatkan penemuan-penemuan ini semuannya destruktif dan sekaligus konstruktif. Namun penemuan atau bukan, satu-satunya sumber paradigma destruktif – kostruktif ini berubah. Kita akan mulai meninjau perubahan yang serupa, tetapi biasanya lebih luas, yang disebabkan oleh penciptaan teori-teori baru . Kita asumsikan bahwa krisis merupakan prakondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Meskipun mereka mungkin kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan alternatif-alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis. Artinya mereka tidak melakukan anomali-anomali sebagai kasus pengganti meskipun dalam perbendaharaan kata filsafat sains demikian adanya.

Akan tetapi, ini memang berarti-apa yang akhirnya akan menjadi masalah pokok – bahwa tindakan mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula diterima itu selalu didasarkan atas lebih daripada perbandingan teori itu dengan dunia. Putusan untuk menolak sebuah paradigma selalu sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain, dan pertimbangan yang mengakibatkan putusan itu melibatkan perbandingan paradigma-paradigma dengan alam maupun satu sama lain. Sains yang normal berupaya dan harus secara berkesinambungan berupaya membawa teori dan fakta kepada kesesuaian yang lebih dekat, dan kegiatan itu dapat dengan mudah dilihat sebagai penguji atau pencari pengukuhan dan falsifikasi. Ini berarti bahwa jika suatu anomali akan menimbulkan krisis, biasanya harus lebih daripada sekadar sebuah anomali. Selalu ada kesulitan dalam kecocokan paradigma alam; kebanyakan diantara cepat atau lambat diluruskan, seringkali dengan proses-proses yang mungkin tidak diramalkan. Kadang-kadang sains yang normal akhirnya ternyata mampu menangani masalah yang membangkitkan krisis meskipun ada keputusan pada  mereka yang melihatnya sebagai akhir dari suatu paradigma yang ada.

Transisi dari paradigma dalam krisis kepada paradigma baru yang daripadanya dapat muncul dari tradisi baru sains yang normal itu jauh dari proses kumulatif yang dicapai dengan artikulasi atau perluasan paradigma yang lama. antisipasi sebelumnya bisa membantu kita mengenal krisis sebagai pendahuluan yang tepat bagi munculnya teori-teori baru, terutama karena kita telah meneliti versi kecil-kecilan dari proses yang sama dalam membahas munculnya sebuah penemuan. Paradigma baru sering muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio, sebelum krisis berkembang jauh atau telah diakui dengan tegas. Bertambah banyaknya artikulasi yang bersaingan, kesediaan untuk mencoba apapun, pengungkapan ketidakpuasan yang nyata, semuannya merupakan gejala transisi dari riset yang normal kepada riset istimewa. Gagasan sains yang normal lebih bergantung eksistensi semua ini ketimbang pada revolusi-revolusi.

 

5)      Revolusi Sains.

Kemudian revolusi sains muncul karena adanya anomali dalam riset ilmiah yang makin parah dan munculnya krisis yang tidak dapat diselesaikan oleh paradigma lama yang menjadi referensi riset. Untuk mengatasi krisis, ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sambil memperluas cara-cara itu atau mengembangkan sesuatu  paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika yang terakhir ini terjadi, maka lahirlah revolusi sains.

Revolusi sains merupakan episode perkembangan non-kumulatif, dimana paradigma lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang ber-tentangan. Transformasi-transformasi paradigma yang berurutan dari paradigma yang satu ke paradigma yang lainnya melalui revolusi, adalah pola perkembangan yang biasa dari sains yang telah matang. Jalan revolusi sains menuju sains normal bukanlah jalan bebas hambatan

Selama revolusi, para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda ketika menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenal untuk melihat tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba dipindahkan ke daerah lain di mana obyek-obyek yang sangat dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda, berbaur dengan obyek-obyek yang tidak dikenal. Ilmuwan yang tidak mau menerima paradigma baru sebagai landasan risetnya, dan tetap bertahan pada paradigma yang telah dibongkar dan sudah tidak mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat sains, maka aktivitas risetnya tidak berguna sama sekali.

Revolusi sains di sini dianggap sebagai episode perkembangan non-kumulatif yang di dalamnya paradigma yang lama diganti sebagian atau seluruhnya oleh paradigma baru yang bertentangan. Adanya revolusi sains bukan merupakan hal yang berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sebagian ilmuwan atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru. Dan ini menimbulkan masalah sendiri yang memerlukan pemilihan dan legitimasi paradigma yang lebih definitif.

Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika, tetapi juga teknik-teknik argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena itu permasalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains, hanyalah sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan akademisi dan atau masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka revolusi sains kian dapat terwujud.

Selama revolusi, para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda dengan ketika menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenal untuk melihat tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba dipindahkan ke daerah lain di mana obyek-obyek yang sangat dikenal sebelumnya tampak dalam penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan obyek-obyek yang tidak dikenal

Kalaupun ada ilmuwan yang tidak mau menerima paradigma baru sebagai landasan risetnya, dan ia tetap bertahan pada paradigma yang telah dibongkar dan sudah tidak mendapat dukungan lagi dari mayoritas masyarakat sains, maka aktivitas-aktivitas risetnya hanya merupakan tautologi, yang tidak berguna sama sekali [24].

6)      Paradigma Baru.

Sebagian ilmuwan atau masyarakat sains tertentu ada kalanya tidak mau menerima paradigma baru dan ini menimbulkan masalah sendiri. Dalam pemilihan paradigma tidak ada standar yang lebih tinggi dari pada persetujuan masyarakat yang bersangkutan. Untuk menyingkap bagaimana revolusi sains itu dipengaruhi, kita harus meneliti dampak sifat dan dampak logika juga teknik-teknik argumentasi persuasif yang efektif di dalam kelompok-kelompok yang membentuk masyarakat sains itu. Oleh karena itu per-masalahan paradigma sebagai akibat dari revolusi sains, hanya sebuah konsensus yang sangat ditentukan oleh retorika di kalangan masyarakat sains itu sendiri. Semakin paradigma baru itu diterima oleh mayoritas masyarakat sains, maka revolusi sains kian dapat terwujud.

Kesemuanya itu dimulai dengan adanya “paradigma”. Menurutnya ilmu yang sudah matang, dikuasai oleh suatu paradigma tunggal. Paradigma ini berfungsi sebagai pembimbing kegiatan ilmiah dalam masa Normal Sains yang mana ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma secara rinci dan mendalam karena tidak sibuk dengan hal-hal yang mendasar. Paradigma diterima oleh suatu kelompok masyarakat ilmiah jika paradigma itu mewakili karya yang telah dilakukannya. Paradigma Baru memperoleh status karena:

(a)        Berhasil memecahkan masalah-masalah dalam praktek

(b)        Memperluas pengetahuan tentang fakta-fakta yang oleh paradigma diperlihatkan sebagai pembuka pikiran

Jadi dengan menggunakan istilah paradigma itu, Kuhn hendak menunjuk sejumlah contoh praktek ilmiah aktual yang diterima atau diakui di lingkungan komunitas ilmiah, menyajikan model-model yang mendasarkan lahirnya tradisi ilmiah yang terpadu. Contoh praktek ini mencakup dalil-dalil, teori penerapan dan instrumentasi. Dengan demikian para ilmuwan yang penelitiannya didasarkan pada paradigma yang sama yang pada dasarnya terikat pada aturan dan standar yang sama pula dalam mengemban ilmunya. Keterikatan pada aturan dan standar ini adalah prasyarat bagi adanya Normal Sains. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa paradigma itu adalah gejala atau cara pandang atau kerangka berpikir yang mendasarkan fakta atau gejala disinterpretasi dan dipahami. Hanya masalah yang memenuhi kriteria yang diderifiasi dari paradigma saja yang dapat disebut masalah ilmiah yang layak digarap oleh ilmuwan. Dengan demikian maka paradigma menjadi sumber keterpaduan bagi tradisi penelitian yang normal. Aturan penelitian diderivasi dari paradigma namun menurut Kuhn, tanpa adanya aturan ini paradigma saja sudah cukup untuk membimbing penelitian. Jadi ilmuwan normal sebenarnya,tidak terlalu memerlukan aturan atau metode yang standar (yang disepakati oleh komunitas ilmiah.

 

  1. Kritik Terhadap Pemikiran Kuhn

Pemikiran Kuhn yang bisa dibilang radikal itu, mendapat tanggapan yang luas dari banyak kalangan. Sikap pro dan kontra bermunculan dari para ilmuan. Tim healy, misalnya, dari Santa Clara mengakui bahwa teori “paradigm shift” Kuhn memang benar. Semua kehidupan, keilmuan, sosial, agama, dll, terbukti mengalam “paradigm shift”. Bahkan menurut Healy, teori paradigm shift dapat dipakai untuk memahami segala persoalan hidup.

Steven Hodas, membrikan komentar yang menarik. Menurutnya, pemikiran Kuhn mengagetkan mayoritas masyarakat Amerika era 1960-an, yang meyakini keberhasilan sains dalam mencapai kebenaran final. Kuhn menggagalkan semua keyakinan ini, dengan menyatakan bahwa kebenaran sains tak lebih hanyalah a culture practice. Oleh karena itu, kebenaran sains itu relatif. Komentar Hodas ini berdekatan dengaan Weinberg, menurutnya yang menjadikan Kuhn tampak seprti seorang pahlawan bagi para filsuf, sejarawan, sosiolog, dan budayawan antikemapanan adalah kesimpulannya yang skeptis-radikal tentang kemampuan sains dalam menentukan kebenaran. Dengan demikian, sains tak ubahnya seerti demokrasi atau permainan base ball, sebuah konsensus sosial. Weinberg mengkritik Kuhn tentang incommensurable (dua paradigma yang tak bisa didamaikan) yang oleh karena itu ilmuwan tak bisa menengok kembali paradigma lama. Menurut Weinberg, Kuhn keliru dalam hal ini. Pada kenyataannya, pergeseran paradigma tidak otomatis mengakibatkan kita tak lagi bisa memahami realitas ilmiah dengan paradigma lama.

Kuhn juga mendapat kritikan dari banyak kalangan, karena tidak memberikan definisi yang tegas tentang istilah “paradigm” yang dia sebut berulang-ulang dalam bukunya. Di samping itu, ia juga dikritik karena terlalu mendramatisir pertentangan sehingga menjadi “revolusi” antara normal science lama dengan yang baru.

Kritik paling mendasar datang dari Imre Lakatos. Menurutnya, teori Kuhn tentang revolusi sains memang menakjubkan. Tetapi, sayang ia miskin metodologi normatif. Atas kriteria apa suatu paradigma bisa dianggap unggul dan berhak menjadi paradigma tunggal bagi normal science? Kuhn ternyata hanya melemparkan persoalan ini pada centific community. Sebuah eori yang tidak tuntas. Oleh karena iu, Laktos tampil kedepan untuk menjawab problem yang disisakaan oleh Kuhn. Ia membangun teori baru melanjtkan kuhn dan menulis “Falsifcation and The methodeloghy of Scientific Research Program”.

Lepas dari pro kontra  terhadap teori Kuhn, kita tidak dapat memungkiri kebenaran teori ini dalam berbagai disiplin ilmu dan kehidupan. Walaupun teori ini muncul dari lngkungan ilmu-ilmu kealaman, bidang yang ditekuni Kuhn tapi teori ini sudah sering dipakai, disadari atau tidak, oleh para ilmuwan dalam wilayah Ilmu-ilmu sosial dan humaniora[25].

Apapun keberatan-keberatan orang terhadap Kuhn,  tetapi Kuhn telah terlanjur menjadi sosok ilmuwan sukses yang fenomenal. Bernard Cohen telah berupaya melacak bukti-bukti sejarah tentang kebenaran teori Kuhn ini mulai abad XVII hingga XX. Hasilnya memang benar, revolusi sains memang sungguh trjadi, terutama di lingkungan natural scinces.

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Thomas Kuhn menjelaskan fakta, bahwa para filosof ilmu umumnya tidak menghiarukan persoalan hermeneutik yang pokok seperti persoalan apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang ilmuwan. Mereka biasanya malah sibuk dengan urusan tentang kriteria manasaja yang perlu agar ilmu dapat dianggap representasi murni realitas atau keyakinan yang telah teruji.

Thomas Kuhn mengingatkan kita bahwa ada soal penelitian dalam rasionalitas ilmiah itu yang sebetulnya sangat ambigu. Rasionalitas ilmiah itu akhirnya bukanlah semata-mata perkara induksi atau deduksi atau juga rasionalitas demonstratif yang berkulminasi pada representasi teoritis kenyataan obyektif, melainkan pada dasarnya lebih dari perkara interpretasi dan persuasi yang cenderung bersifat subyektif.

Oleh karena itu segala yang dikatakan oleh ilmu tentang dunia dan kenyataan sebetulnya erat terkait pada paradigma dan model atau skema interpretasi tertentu yang digunakan oleh ilmuwannya. Cara ilmuwan memandang dunia sesuai dengan  apa yang dilihatnya. Paradigma yang mendasari konstruksi itu diterima oleh komunitas para ilmuwan, bukan karena ilmuwan itu tahu bahwa itu benar, melainkan karena mereka percaya bahwa itu yang terbaik, yang paling menjanjikan bila digunakan dalam riset-riset selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Beni. Filsafat Ilmu, Bandung: Pustaka Setia, tanpa tahun.

Ayi,Sofyan .Kapita Selekta Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2010.

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2002.

Bagir, Zainal Abidin,  Integrasi Ilmu dan Agama , Bandung: Mizan Pustaka, 2005.

Bakhtiar, Amtsal .filsafat Ilmu, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.

Berger,Peter L, Agama Islam Sebagai Realitas Sosial, Jakarta: LP3S, 1991.

Henry, D.Aiken, Abad ideologi ,Yogyakarta: Kembang Budaya, 2002.

Kuhn, Thomas. Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, Bandung: Rosdakarya,2008.

Kuhn,Thomas. The Structure of Scientific Revolutions, Chicago: The University of Chicago Press, 1970

Muhajir, Noeng. Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Rakesarasin,2001.

Muhyar, Fanani Pudarnya Pesona Ilmu Agama,Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007.

Soetomo, Greg Sains dan Problem Ketuhanan ,Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Verhaak dan Imam R. Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakata: Gramedia, 1989.

Zubaedi. Filsafat Barat, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media,2007.

http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi



[1]Zubaedi, Filsafat Barat, (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media,2007), hlm. 12

[2] Amtsal Bakhtiar, filsafat Ilmu,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 1

[3]Thomas Kuhn, Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, (Bandung: Rosdakarya,2008), hlm 1

[4]Beni Ahmad, Filsafat Ilmu, (Bandung: Pustaka Setia, tanpa tahun), hlm. 14

[5]Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 12

[6]  Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta; Gramedia, 2002) hlm. 779

[7] Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rakesarasin,2001)  hlm.177

[8] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 200-201

[9] Greg Soetomo, Sains dan Problem Ketuhanan (Yogyakarta: Kanisius, 1995) hlm 22

[10] Sofyan Ayi, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung : Pustaka Setia, 2010) hlm. 158

[11] Zainal Abidin Bagir , Integrasi Ilmu dan Agama ,(Bandung: Mizan Pustaka, 2005)hlm 54

 

[12] http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi diaksespada tanggal 22 Mei 2016

[13]  Henry, D.Aiken, Abad ideologi (Yogyakarta: Kembang Budaya, 2002) hlm. 15

[14] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 205

[15] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 4

[16] Verhaak dan Imam R, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakata: Gramedia, 1989), hlm. 164

[17] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 200

[18] Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions,(Chicago: The University of Chicago Press, 1970), hlm.10

[19] Verhaak dan Imam R, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakata: Gramedia, 1989), hlm. 165

[20] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 202

[21]Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, terj. Tjun Surjaman (Bandung: Rosdakarya, 2008), hlm.10

[22]Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 204

[23] Peter L Berger, Agama Islam Sebagai Realitas Sosial (Jakarta: LP3S, 1991) hlm. 53

[24] Zubaedi, Filsafat Barat… hlm. 204-206

[25] Fanani Muhyar, Pudarnya Pesona Ilmu Agama (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007). Hal. 35

PEMIKIRAN FILSAFAT THOMAS KUHN DALAM REVOLUTION OF SCIENCE | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *