Penilaian Faktor Permodalan

Modal adalah harta yang dipergunakan untuk menghasilkan tambahan kekayaan. Asapun rincian komponen modal menurut SK Direksi BI No. 26/20/KEP/DIR Pasal 3 ayat (1) sampai dengan ayat (4) tanggal 29 Mei 1993 adalah sebagai berikut :

  1. Modal inti, berupa :

1)      Modal disetor, yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.

2)      Agio saham, yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank akibat harga saham yang melebihi nilai nominal.

3)      Modal sumbangan, yaitu modal yang diperoleh dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tersatat dengan harga jual apabila saham tersebut dijual.

4)      Cadangan umum, yaitu cadangan dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapat persetujuan RUPS atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran masing-masing bank.

5)      Cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS atau rapat anggota.

6)      Laba yang ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang oleh RUPS atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.

7)      Laba tahun lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun lalu setelah diperhitungjan pajak dan belum ditetapkan penggunaanya oleh RUPS atau rapat anggota. Apabila bank mempunyai saldo rugi tahun-tahun lalu, maka kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

8)      Laba tahun berjalan, yaitu 50% dari laba tahun buku berjalan setelah dikurangi pajak. Apabila pada tahun berjalan bank mengalami kerugian, maka seluruh kerugian tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti, dan dikurangi dengan goodwill yang ada dalam pembukuan bank serta kekurangan jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif dari jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif dari jumlah yang seharusnya dibentuk sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.

  1. Modal Pelengkap, berupa :

1)      Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan Direktorat Jendral Pajak.

2)      Penyisihan penghapusan aktiva produktif, yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan. Cadangan ini dibentuk untuk menampung kerugian yang mungkin timbul akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif. Penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dapat diperhitungkan sebagai modal pelengkap adalah maksimum 25% dari ATMR.

3)      Modal pinjaman, yaitu hutang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal dan mempunyai ciri-ciri :

a)      Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal dan telah dibayar penuh.

b)      Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan BI.

c)      Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank melebihi laba ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank dalam dilukuidasi.

d)     Pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut.

4)      Pinjaman Subordinasi, yaitu pinjaman dengan ciri-ciri :

a)      Ada perjanjian tertulis antara bank dengan pemberi pinjaman.

b)      Mendapat persetujuan terlebih dahulu dari BI.

c)      Menyampaikan program pembayaran kembali pinjaman subordinasi tersebut.

d)     Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutran dan telah disetor penuh.

e)      Minimal berjangka waktu 5 tahun.

f)       Pelunanasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari BI, dan dengan pelunasan tersebut permodalan bank tetap sehat.

g)      Hak tagihnya dalam hal terjadi likuidasi berlaku paling akhir dari segala pinjaman yang ada.

Pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal pelengkap adalah maksimum sebesar 50% dari modal inti. Sesuai dengan ketentuan surat Keputusan Direksi BI No. 26/2 Kep/Dir tanggal 29 Mei 1993, seluruh modal pelengkap tersebut hanya dapat diperhitungkan sebagai modal setinggi-tingginya 100% dari jumlah modal inti.

Penilaian Faktor Permodalan | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *