Perayaan Maudu’ Lompoa

  1. Perayaan Maudu’ Lompoa

Perayaan Maulid merupakan salah satu perayaan hari besar Islam dalam kaitannya dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Konsep kelahiran Nabi Muhammad SAW telah teradaptasi dalam setiap budaya dan tradisi masyarakat pendukungnya. Perayaan ini kemudian hadir di tengah masyarakat pendukungnya sebagai ritual agama yang disakralkan dengan bentuk dan cara pelaksanaan yang berbeda-beda pula.

Kebiasaan merayakan Maulid setiap tahun pada awalnya dirayakan secara besar-besaran oleh Sultan Al-Arbela, yaitu Amr Abu Said Mudlfaruddin Al-Arbela dan beberapa Sultan yang ada di daerah itu sekitar tahun 300 Hijriyah pada bulan Muharram sampai awal bulan Rabiulawal (Al-Husaini, 1983). Pada hari peringatan Maulid banyak yang datang secara berkelompok, di antaranya dari Baghdad, Muwasshili salah satu kota di Irak, Aljazair, Sinjar, Nashibin salah satu kota di Turki, bahkan dari Persia. Selain itu dihadiri pula oleh para ulama, sufi, mufti, Qurra (orang yang ahli membaca Al-Quran), dan para penyair. Mereka mengadakan hal tersebut di Arbela, salah satu kota di Irak pada bulan Muharram sampai awal Rabiulawal. Diceritakan bahwa ketika itu gubernur mendirikan meja besar dari kayu di jalan raya. Meja tersebut bertingkat-tingkat, diperkirakan sampai empat atau lima tingkat, dihiasi berbagai macam warna. Di atasnya duduk para penyanyi, penari, pemusik, dan penabuh semacam gendang, dan lain-lain (Al-Amily, 1996).

Perkembangan maulid dewasa ini telah menyesuaikan dengan dengan adat budaya dan tradisi masyarakat pelaksananya. Seperti misalnya di Pulau Jawa tepatnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, perayaan Maulid atau lebih dikenal dengan nama Sekaten, setiap tahun dirayakan secara besar-besaran. Perayaan bernuansa Islam terdapat pula di pulau Sumatera yaitu di kota Pariaman Minangkabau Sumatera Barat yang dikenal dengan Tabuik. Upacara Tabuik merupakan upacara memperingati kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai imam (pemimpin) oleh umat Islam aliran Syi’ah (Yuliana, 2004). Perayaan Maulid yang diselenggarakan secara besar-besaran juga terdapat di daerah Sulawesi Selatan, tepatnya di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Ritual agama dengan nuansa Islam itu, dikenal oleh masyarakat Cikoang dengan sebutan Maudu’ Lompoa.

Hal yang menarik dan unik dari perayaan Maudu’ Lompoa  di Cikoang adalah hadirnya kanre Maudu’[1] yang diyakini sebagai simbol dari ajaran Sayyid Jalaluddin. Dalam kanre Maudu’ terkandung empat komponen yang diajarkan Sayyid Jalaluddin, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat. Empat komponen tersebut disimbolkan pada empat macam bahan makanan. Seperti syariat disimbolkan dengan beras yang bermakna sebagai tubuh atau jasad, tarekat disimbolkan dengan ayam yang bermakna sebagai nyawa atau ruh, hakikat disimbolkan dengan kelapa yang bermakna sebagai hati, dan ma’rifat disimbolkan dengan telur yang bermakna sebagai rahasia Tuhan. Keempat macam bahan tersebut erat kaitannya dengan konsep ajaran Sayyid Jalaluddin tentang ‘Nur Muhammad’. Konsep ini diartikan kaum Sayyid, bahwa perayaan Maudu’ Lompoa adalah suatu wujud memperingati kejadian Nabi Muhammad SAW di alam ‘Nur’.

Perayaan Maudu Lompoa dapat disimpulkan sebagai suatu perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang dirayakan secara besar-besaran oleh masyarakat Cikoang yang erat kaitannya dengan konsep ajaran Sayyid Jalaluddin tentang ‘Nur Muhammad’ dengan empat komponen dasar yaitu syariat, tarekat, hakikat dan ma’rifat.



[1]Kanre’ artinya nasi, ‘Maudu’ artinya Maulid atau nasi Maulid. Kanre Maudu’ secara harfiah diartikan sebagai nasi dan lauk berupa ayam goreng, dibungkus daun pisang, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah wadah berupa bakul. Di pinggir bakul dililitkan daun pisang atau daun kelapa dalam posisi berdiri yang berfungsi sebagai pembungkus sekaligus penutup bakul. Dihias dengan kertas warna-warni, telur berwarna yang ditusuk dengan menggunakan bambu yang telah dibelah-belah kecil dan ditancapkan pada permukaan bakul. Lihat Nur Alam Saleh, “Maudu’ Lompoa: Budaya Yang Sarat Dengan Nilai-Nilai Spiritual“, dalam Buletin Bosara: Media Informasi Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, 1996), hal. 18.

Perayaan Maudu’ Lompoa | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *