PERBEDAAN BAHASA DENGAN DIALEK

 

 
 

 
 

PERBEDAAN BAHASA DENGAN DIALEK

 
Dialek merupakan bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal di suatu daerah tertentu. Perbedaan dialek di dalam sebuah bahasa ditentukan oleh letak geografis atau region kelompok pemakai bahasanya. Karena itu dialek disebut dialek geografis atau dialek regional. Batas-batas alam seperti sungai, laut, gunung, hutan, dan semacamnya membatasi dialek yang satu dengan dialek yang lain.
 
Karena paham dialek di sini adalah “bagian” dari suatu bahasa, timbul paham lanjutan yang mengatakan, pemakai suatu dialek bisa mengerti dialek lain. Dengan kata lain ciri penting suatu dialek ialah adanya kesalingmengertian. Misalnya, sebuah bahasa A mempunyai dialek A1 dan A2. Untuk dapat dikatakan dialek, pemakai A1 harus mengerti jika pemakai A2 mrnggunakan A2, begitu sebaliknya. 
 
Masalah yang timbul sekarang, dengan adanya keadaan berikut: Apa yang disebut oleh orang awam dialek tertentu ternyata tidak dipahami oleh pemakai dialek lain. Misalnya, masyarakat Jawa umumnya mengaku bahwa bahasa Jawa terdiri atas beberapa dialek, antara lain dialek Bagelan, dialek Solo-Jogja, dialek Jawa timur, dialek Osing, tetapi sebagian besar masyarakat dialek Osing tidak mengerti dialek Bagelan, begitu juga sebaliknya. Sebaliknya ada keadaan: dua kelompok masyarakat yang berbeda ternyata bisa saling mengerti meskipun mereka menggunakan bahasa yang berbeda. contohnya keadaan di perbatasan Belanda dengan Jerman. Jika orang Belanda berhubungan dengan tetangga yang bersuku bangsa Jerman dan berbahasa Jerman, orang Belanda itu memakai bahasa Belanda, orang Jerman mengerti. Dalam menyambut pembicaraan orang Belanda, orang Jerman menggunakan bahasa Jerman, orang Belanda pun mengerti. 
 
Dari uraian di atas, kelihatan ukuran untuk menentukan X dan Y itu dua dialek atau dua bahasa yang berdasarkan kesalingmengertian dan ketidaksalingmengertian menjadi lemah dan ini mendorong kita untuk mencari ciri atau kriteria lain.
 
Ciri yang cukup masuk akal adalah ciri sejarah, dalam arti apakah X dan Y itu dua dialek atau dua bahasa, sedikit banyak bergantung pada hubungan sejarah keduanya. Sejarah menentukan X adalah bahasa Jerman dan Y adalah bahasa Belanda. Dalam hal ini terdapat juga ciri kesetiaan akan adanya hubungan antara dua dialek atau antara sebuah dialek dengan induknya. Perjalanan sejarah tidak menghilangkan kesetiaan dialek akan induk bahasanya.
 
Ciri lain bisa disebut homogenitas, yaitu adanya kesamaan unsur-unsur bahasa tertentu. Para ahli dialektologi misalnya, percaya apakah X dan Y itu dua bahasa, dua dialek, atau dua subdialek, ataukah hanya sekadar dua variasi, dapat ditentukan dengan mencari kesamaan kosakatanya. Jika persamaannya hanya 20% atau kurang, keduanya adalah dua bahasa, tetapi kalau bisa mencapai 40%-60% maka keduanya merupakan dialek. Jika mencapai 90% maka keduanya hanya dua variasi dari sebuah bahasa.
 
sumber: Sumarsono. 2010. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 

 

 

 

0 komentar:

 

Poskan Komentar

 

 

 
 

 

 

 

 
PERBEDAAN BAHASA DENGAN DIALEK | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *