Perkembangan Posyandu di Indonesia

Upaya perbaikan gizi di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1950-an yang dimulai dengan pembentukan panitia perbaikan makanan rakyat di  Jawa Tengah. Pada  tahun  yang  hampir  bersamaan  dilaksanakan  kegiatan  serupa  di  berbagai negara lain. FAO dan WHO merumuskan suatu program yang dinamakan Applied Nutrition Program (ANP) yaitu upaya yang bersifat edukatif untuk meningkatkan gizi rakyat terutama golongan rawan gizi dengan peran serta masyarakat setempat dengan dukungan dari berbagai instansi secara terkordinasi.

Tahun 1969 melalui  pertemuan  berbagai  instansi  dilahirkan  nama  UPGK dengan menggunakan konsep ANP (Applied Nutrition Program) dari FAO-WHO. Dalam perkembangannya pada tahun 1984 dicanangkan oleh masyarakat dengan bantuan alat dan tenaga khusus dari pemerintah. Posyandu merupakan salah satu bentuk Pembangunan  Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD). PKMD merupakan suatu pendekatan yang kekuatannya terletak pada pelayanan kesehatan dasar, kerjasama lintas sektoral dan peran serta msyarakat.

Tujuan dari Posyandu adalah:

 

1)  Mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak balita serta penurunan angka kelahiran.

2)  Mempercepat   penerimaan    Norma    Keluarga    Kecil     Bahagia    Sejahtera

 

(NKKBS).

 

3) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan   dan   kegiatan-kegiatan    lain   yang   menunjang   sesuai   dengan kebutuhan (Depkes 1986,1997).

 

 

Posyandu digolongkan menjadi 4 tingkatan yaitu :

 

1.       Posyandu  tingkat  pratama  adalah  posyandu  yang  masih  belum  optimal kegiatannya dan belum bisa melaksanakan kegiatan rutinnya tiap bulan dan kader aktifnya masih terbatas.

2.     Posyandu tingkat madya adalah posyandu yang sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader 5 atau

 

 

lebih,  tetapi  cakupan  program  utamanya  (KB,KIA,GIZI  dan  Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Kelestarian dari kegiatan posyandu ini sudah baik tetapi masih rendah cakupannya.

3.     Posyandu tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensi pelaksanaannya lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader yang bertugas 5 orang atau lebih, cakupan program utamanya (KB, KIA, GIZI dan Imunisasi) lebih dari

50% sudah dilaksanakan, serta sudah ada program tambahan bahkan sudah ada Dana Sehat yang masih sederhana.

4.     Posyandu tingkat mandiri adalah posyandu yang sudah bisa melaksanakan programnya  secara mandiri, cakupan program utamanya  sudah bagus, ada program tambahan Dana Sehat dan telah menjangkau lebih dari 50% Kepala Keluarga (KK).

 

 

Perkembangan Posyandu di Indonesia | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *