Problem Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

  1. Problem Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam pengertian yang sempit, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pengajaran sarta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar disekolah. Pengertian ini yang digaris bawahi ada empat komponen pokok dalam kurikulum, yaitu: tujuan, isi/ bahan, organisasi dan strategi.

Dalam pengertian yang luas, kurikulum merupakan segala kegiatan yang dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan kepada peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan (Institusional, kurikuler dan instruksional). Pengertian ini menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik, adalah termasuk kurikulum dan bukan terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja. [1]

Dalam kerangka penerapan kurikulum PAI pada sekolah, para guru agama diperlukan mampu membaca visi sebuah kurikulum, yakni ide-ide pokok yang terkandung di dalam tujuan-tujuan kurikulum. Perlunya kemampuan membaca visi kurikulum PAI, terutama agar persepsi yang dibentuk dalam pemikiran para guru agama itu terdapat relevansi dan visi kurikulum yang secara prinsip terkandung dalam tujuan-tujuan kurikulum.

Problem pada saat ini adalah kecenderungan bahwa perhatian guru agama lebih tertuju pada struktur kurikulum PAI, seperti analisis materi pelajaran, merumuskan tujuan serta bagaimana urusan administrasi pengajaran lainya, pengembangan kurikulum yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional serta relevansinya dengan rumusan kompetensi PAI, kurang mendapat perhatian.

Dalam pandangan dunia pendidikan, keberhasilan program pendidikan sangat tergantung pada perencanaan program kurikulum pendidikan tersebut, karena kurikuum pada dasarnya berfungsi untuk menyediakan program pendidikan yang relevan bagi pencapaian sasaran akhir program pendidikan. Dengan kata lain fungsi kurikulum adalah menyiapkan dan membentuk peserta didik agar dapat menjadi manusia yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan orientasi kurikulum dan sasaran akhir progran pendidikan. Program kurikulum diorientasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang tentu akan memiliki konstribusi yang signifikan terhadap calon-calon penganggur pada masa yang akan datang. [2]

Sedangkan kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah berfungsi sebagai berikut:

  1. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
  2. Penanaman nilai, yaitu sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.
  3. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaiakan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.
  4. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiaki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembanganya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
  6. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.
  7. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.[3]

Ketika kurikulum pada PAI tidak digunakan dengan baik maka hasil yang maksimal tidak akan didapatkan.

Amin Abdullah, salah satu pakar keIslaman non tarbiyah, juga telah menyoroti kurikulum dalam kegiatan pendidikan Islam yang selama ini berlangsung di sekolah, antara lain sebagai berikut:

  1. Pendidikan Islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata-mata.
  2. Pendidikan Islam kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara dan media.
  3. Pendidikan agama Islam lebih menitik beratkan pada aspek korespondensi tekstual, yang lebih menitik beratkan pada hafalan teks keagamaan yang sudah ada.
  4. Sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif, dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna” spiritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari. [4]


[1]     Muhaimin, Arah Batu Pengembangan Pendidikan Islam (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003), hlm. 182

 

[2]     Hujair, Paradigma Pendidikan Islam (YogJakarta: Safitria Insania Press, 2003), hlm. 163

 

[3]     Abdul Majid dan Dian Andayani, Op. cid., hlm. 169

[4]     Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 264

Problem Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *