Problem Pendidik (Guru) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

  1. Problem Pendidik (Guru) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Kelambanan dalam belajar kadang disebabkan oleh tidak mencukupinya kegiatan belajar mengajar, buruknya pengajaran, guru yang tidak memadi, materi pelajaran yang sulit sehingga tidak dapat diikuti anak, atau tidak ada kesesuaian antara pelajaran yang ditetapkan dan bakat anak. [1]

Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan disekolah, pendidik memegang peranan yang paling utama. sebagaimana dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 151

كَمَاأَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلاً مِنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ ءَايَتِنَا وَيُزَكِيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَبَ وَاْلحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّالَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ (البقره: 151)

 

“Sebagian (kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum diketahui.” (Al Baqarah: 151)

Ayat ini menerangkan bahwa seorang pendidik adalah pewaris nabi yang mempunyai peranan penting dalam merubah dinamika kehidupan primitif menuju kehidupan madani.

Pendidik dalam Islam juga dikatakan sebagai siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik.[2]

 Muhammad Fadhil Al-Djamali menyatakan bahwa pendidikan adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemampuannya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat At Takhrim ayat 6 yang berbunyi:

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَاْلحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَّ يَعْصُوْنَ اللهَ مَاأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُيْنَ مَايَؤْمَرُوْنَ (التحريم: 6)

 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At Takhrim: 6)

 

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwasannya pendidikan merupakan kewajiban setiap manusia. Pendidik dalam pendidikan agama Islam dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seseorang dikatakan profesional bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yaitu selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model yang sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada masa zamannya. [3]

Untuk mencapai keefektifan Soejono yang telah dirujuk oleh Ahmad Tafsir dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam” (1991:80) menyatakan bahwa syarat guru adalah sebagai berikut:

1)      Tentang umur, harus sudah dewasa.

2)      Tentang kesehatan, harus sehat jasmani dan rohani.

3)      Tentang kemampuan mengajar, ia harus ahli.

4)      Harus berkesusilaan atau berdedikasi tinggi.

Pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta menerapkan prinsip prinsip didaktik dan metodik agar usahanya dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Pengertian didaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip-prinsip tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik.

Pendidik dalam sekolah yang biasa disebut dengan sebutan guru. Dalam buku pendidikan agama Islam berbasis kompetensi yang ditulis Abd. Mujib dan Dian Andayani merujuk dari Syaodih, 1997: 194, dikatakan, Guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Para pakar menyatakan bahwa, betapapun bagusnya sebuah kurikulum cofficial, hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru di luar maupun di dalam kelas (actual)

Karena guru sebagai profesi, tugas guru sebagai profesi meliputi: mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

Sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, perkembangan baru terhadap pandangan belajar, mengajar dan hasil belajar siswa berada pada tingkat optimis. [4]

Kualitas pembelajaran yang sesuai dengan rambu-rambu PAI dipengaruhi pula oleh sikap guru yang kreatif untuk memilih dan melaksanakan berbagai pendekatan dan model pembelajaran yang relevan dengan kondisi siswa dan pencapaian kompetensi, akan tetapi pada saat ini guru yang kreatif, profesional dan komitmen sulit sekali didapatkan karena problematika yang didapat oleh guru itu sendiri.

Dalam pencapaian keberhasilan pembelajaran pendidikan agama Islam adalah dimana seorang guru mempunyai kualitas yang baik. Secara garis besar Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan kualitas guru sebagaimana berikut:

 

 

a)       Orientasi guru terhadap profesinya.

Kesadaran seorang guru terhadap tanggung jawab sebagai pengajar akan mempengaruhi pelaksanaan pendidikan agama Islam.

b)      Keadaan kesehatan guru.

Seorang guru harus mempunyai tubuh yang sehat. Sehat dalam arti tidak sakit dan sehat dalam arti kuat, mempunyai cukup sempurna energi.[5]

c)       Keadaan ekonomi guru.

Seorang guru jika terpenuhi kebutuhannya, maka ia akan lebih percaya diri kepada diri sendiri, merasa lebih aman dalam bekerja maupun kontak-kontak sosial lainya.[6]

d)      Pengalaman mengajar guru.

Kian lama seorang guru itu menjadi guru, kian bertambah baik pula dalam menunaikan tugasnya untuk menuju kesempurnaan. [7]

e)       Latar belakang pendidikan guru.

Profesi guru itu dalam banyak hal ditentukan oleh pendidikan persiapannya. [8]

Fazlurrahman menyatakan Indonesia seperti halnya negara-negara muslim besar lainya juga menghadapi masalah pokok dalam modernisasi pendidikan Islam yaitu masalah kelangkaan tenaga kerja yang memadai untuk mengajar dan melakukan riset, dikarenakan pada gaji yang tidak cukup, kemudian ia mencari pekerjaan tambahan diluar lembaga pendidikan untuk memenuhi kehidupannya perbulan. Akibatnya etos kerjanya sebagai pendidik agama di sekolah sangat menurun.

 



[1]     Ibid, hlm. 40

 

[2]     Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Surabaya: Abditama, 1991), hlm. 74

 

[3]     Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 4

[4]     Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesiona  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 9

[5]     Amir Daim Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha nasional, 1973), hlm. 173

[6]     Piet Sahertian Dan Ida Aleda Sahertian, Supervise Pendidikan Dalam Rangka Program Inservise Education (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm. 129

[7]     Amir Daim Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 179

[8]     Ali Saifullah, Antara Filsafat Dan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1989), hlm. 21

Problem Pendidik (Guru) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *