Resume Buku (Perbandingan Pendidikan Islam, Ali Al-Jambulati)

Resume Buku

(Perbandingan Pendidikan Islam, Ali Al-Jambulati)

 

Resume buku ini disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah :

Pemikiran Pendidikan Islam

 

 Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Abdul Haris M.Ag

Dr. H. Agus Maimun. M.pd

 

Oleh:

Fikriyah Mahyaddin                        15741002

 

 

DOKTORPENDIDIKANBAHASAARAB

PROGRAM PASCASARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2016 M

 

Kata Pengantar

Pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien. Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Dengan melihat arti pendidikan islam, jelaslah bahwa dengan pendidikan islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlakul karimah) berdasarkan pada ajaran agama islam.

Oleh karena itu, pendidikan islam sangat penting sebab dengan pendidikan islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran agama islam.

Pendidikan agama islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. Sebagaimana menurut pendapat Zakiyah Drajat bahwa: “pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan yang dilaluinya sejak sejak kecil”. 

Banyak sekali konsep dan teori tujuan pendidikan islam yang telah dikemukakan oleh para ahli pendidikan, baik pada zaman klasik, pertengahan maupun dewasa ini. Namun dapat difahami, bahwa beragamnya konsep dan teori tujuan pendidikan agama islam tersebut merupakan bukti adanya usaha dari para pemikir muslim dan masyarakat muslim umumnya untuk menciptakan suatu sistem pendidikan yang baik bagi masyarakatnya.

BAB I

Ciri-Ciri Dan Tujuan Pendidikan Islam

  1. Para Pengajar (Guru)

Menurut al-Djahizh kedudukan guru itu adalah tinggi, namun ada juga sebagian guru yang hina yaitu guru yang selalu berbuat kesalahan. Pandangan yang merendahkan guru karena sedikit gajinya itu terpengaruh oleh cerita-cerita yang bersumber dari Yunani kuno. Al-Djahizh mengklasifikasikan guru menjadi dua macam yaitu guru yang mulia dan guru yang hina.

  1. Gaji Guru

Memberikan gaji kepada guru merupakan hal yang sangat diperlukan. Karena pekerjaan mengajar memerlukan ketekunan dan harus  

BAB II

LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Lembaga-lembaga pendidikan Islam terdiri dari masjid, al-Kuttab, madrasah, zawiyah, dan al-Maristan.

BAB III

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

            Tujuan pendidikan Islam didasarkan atas dua asas yang kuat yaitu duniawi dan agama sekaligus bersamaan (simultan).

BAB IV

HUBUNGAN ANTARA SISTEM ISLAM DAN SISTEM PENDIDIKAN

Sistem pendidikan Islam melebihi daripada sistem pendidikan bangsa-bangsa zaman dahulu dan sekarang. Pendidikan Islam mendapatkan inspirasi dan semangat yang kuat dari ajaran Islam yang bersumberkan pada al-Qur’an.

BAB V

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM

  1. Kurikulum Ibtidai (Tingkat Dasar)

Nama kurikulum ini didasarkan atas dimulainya pendidikan terhadap anak-anak yang sedah bertumbuh, dan pada usia murahaqah.

  1. Kurikulum tingkat atas

Kurikulum ini berisi ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya untuk dikembangkan dan didalami secara khusus.

  1. Kurikulum yang mengandung ilmu dan adab (sastra/kebudayaan)

Kurikulum ini mengandung penerjemahan buku-buku dari sumber-sumber kebudayaan asing dari Persia, Yunani, dan Hindu.

BAB VI

Aliran Al-Qabisi Dalam Pendidikan

Al-Qabisi adalah seorang ulama yang ahli hadist. Ia dikenal sebagai ulama yang shaleh dan juga mengintegrasikan antara ilmu dan ibadah. Beliau merupakan penganut mazhab Maliki.

Al-Qabisi berpendapat bahwa pendidikan anak-anak merupakan tiang yang pertama dalam pendidikan Islam. Beliau juga tidak menentukan usia tertentu untuk menyekolahkan anak, karena pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya semenjak anak mulai dapat berbicara.

 

BAB VII

AL-KUTTAB ISLAM SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN UNTUK MEMBENTUK KEPRIBADIAN, KEBEBASAN, DAN DEMOKRASI

            Para ahli pendidikan Islam termasuk al-Qabisi sangat memperhatikan masalah pembentukan kepribadian Islam yaitu meyakini bahwa Tuhan itu ada, senantiasa taat kepada Allah, mampu membedakan yang halal dan haram, serta bersikap ikhlas kepada Tuhannya.

            Selain itu, al-Qabisi juga mendorong keberanian anak untuk memberikan kebebasan kepada orang lain, misalnya memberikan kebebasan kepada anak mengajar anak lain jika memang ada manfaatnya. Perbuatan demikian merupakan aspek penting dari kebebasan dan demokrasi dalam pendidikan.

BAB VIII

PANDANGAN BARU AL-QABISI

  1. Kewajiban mengajar

Al-Qabisi menyeru kepada pemerintah dan orangtua bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak yang masing-masing sesuai dengan fungsinya dalam melaksanakan kewajiban mendidik/mengajar anak mereka secara keseluruhan.

  1. Persamaan dan demokrasi dalam pendidikan/pengajaran

Al-Qabisi berpendapat bahwa pendidikan adalah hak semua orang tanpa ada pengecualian.

  1. Pandangan al-Qabisi tentang upah mengajar

Al-Qabisi membolehkan kepada guru untuk menerima upah dari mengajar, bahkan lebih dari itu, ia memperbolehkan guru menerima hadiah-hadiah pada hari-hari besar.

BAB IX

IBNU SINA

            Pandangan Ibnu Sina terhadap pendidikan sebagai berikut:

a)    Pendidikan keterampilan untuk mempersiapkan anak mencari kehidupan

b)    Bahan-bahan kurikulum tingkat awal untuk meningkatkan mutu pendidikan anak         

Bab X

Gambaran Umum Tentang Pendidikan Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun mendapatkan pendidikan pertamanya dengan menghafalkan al-Qur’an dan belajar tentang dasar-dasar ilmu bahasa Arab, kesustraan dan gramatika, lalu mendalami ilmu usul fiqh dan fiqh dari mazhab Maliki, dan ilmu tafsir dan hadist, dan mendalami filsafat dan logika, juga ilmu kalam dari mazhab al-Asy’ariyah, serta mendapatkan manfaat besar melalui belajar pada tokoh-tokoh ulama yang menetap di Tunis. Menjelang usia 20 tahun Ibnu Khaldun nampak kecerdasan akalnya.

Ibnu Khaldun terkenal sebagai ahli sejarah yang bijaksana dan ahli ekonomi dan perencanaan untuk memakmurkan masyarakat sebagaimana ditulis dalam kita Muqaddimahnya yang masyhur itu.

BAB XI

PANDANGAN IBNU KHALDUN TENTANG PENDIDIKAN

  1. Tinjauan secara umum

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak dengan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi guru wajib memperbaiki metode dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan lebih dahulu mempelajari hidup kejiwaan anak dan mengetahui tingkat-tingkat kematangannya serta bakat-bakat ilmiahnya, sehingga ia mampu menerapkan sesuai dengan tingkat pikiran mereka.

  1. Ibnu Khaldun tidak menyetujui mengajar dengan cara verbalistik (Teks books croten)

Ibnu Khaldun menentang metode Verbalisme dalam pengajaran dan menghindari dari hapalan yang tidak memahami sesuatu yang dapat dibuktikan melalui panca indera dari bahan pelajaran yang dihafalkan anak. Beliau menghimbau untuk menggunakan metode ilmiah yang modern yaitu metode diskusi dan pengkajian dalam proses belajar-mengajar.

  1. Pandangan Ibnu Khaldun terhadap perkembangan akal pikiran
    anak didik

Ibnu Khaldun menganjurkan agar guru-guru mempelajari sungguh-sungguh perkembangan akal pikiran murid-muridnya, karena anak pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan.  Beliau menghendaki penerapan metode yang berdasarkan prinsip bahwa kemampuan menerima ilmu pengetahuan pada anak itu berproses secara setingkat demi setingkat sejalan dengan periode perkembangannya. Oleh karena itu, hendaknya para guru tidak menyodorkan permasalahan ilmu yang sulit pada momentum yang pertama.

  1. Metode mengajar dan gaya yang harus dipelihara oleh guru

a)    Metode pentahapan dan pengulangan (tadarruj wa attikrari)

b)    Menggunakan sarana tertentu untuk menjabarkan pelajaran

c)    Wisata-wisata merupakan alat untuk mendapatkan pengalaman langsung

d)    Tidak memberikan presentasi yang rumit kepada anak yang baru belajar

e)    Harus ada keterkaitan dalam disiplin ilmu

f)     Tidak mencampuradukkan antara dua ilmu pengetahuan dalam satu waktu

g)    Hendaknya jangan mengajarkan al-Qur’an kepada anak kecuali setelah sampai pada tingkat kemampuan berfikir tertentu

h)   Sanksi terhadap murid merupakan salah satu motivasi dorongan semangat belajar (bagi murid yang tidak disiplin)

  1. Alat yang digunakan dalam pendidikan Islam

Alat yang digunakan dalam pendidikan Islam adalah dengan membacakan kitab suci al-Qur’an, kisah-kisah islami, menceritakan syair-syair, dan lain sebagainya.

  1. Pandangan Ibnu Khaldun tentang penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Non-Arab

Ibnu Khaldun dalam pandangannya memberikan bantahan terhadap penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Non Arab dengan dalil bahwa al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab. Akan tetapi, para ahli pikir muslim saat ini mengikuti paham moderat yang membolehkan penerjemahan untuk menyebarkan ajaran Islam pada kalangan bangsa-bangsa dengan alasan adanya kekhawatiran akan terjadi penyelewengan oleh orang-orang yang sakit hati. Tetapi juga tidak tertutup kemungkinan adanya orang-orang yang lain bersedia mencetak ke dalam bahasa Arab dan merusakkan bahasa al-Qur’an itu sendiri.

Oleh karena itu, hendaknya di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Arab.

 

 

 

 

BAB XII

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ANAK YANG TERKANDUNG DALAM WASIAT AL-RASYID

            Wasiat Harun al-Rasyid disampaikan kepada pendidik putranya al-Amien, dan wasiatnya adalah sebagai berikut:

  1. Contoh teladan yang baik dalam pendidikan akhlak

Metode uswatun hasanah merupakan alat untuk merealisasikan tujuan pendidikan akhlak dan menumbuhkan sumber-sumber keutamaan dalam jiwa anak.

  1. Mengajar praktik kemasyrakatan
  2. Hubungan intim antara murid dengan para ahli pendidikan (ulama) merupakan metode yang efektif
  3. Mengajar ilmu pengetahuan dengan bahasa aslinya.
  4. Mentransfer ilmu, berpengaruh terhadap latihan
  5. Metode memahirkan berbahasa melalui proses belajar mengajar

 

BAB XIII

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDAPAT

Di kalangan para ahli pendidikan dan tokoh-tokoh pemikir di bidang pengajaran terdapat persamaan dan perbedaan pendapat pandangan sesuai dengan aliran paham mereka.

Salah satu persamaan mereka adalah pendapat tentang keharusan memulai mendidik dengan mengajarkan al-Qur’an kepada anak sejak usia dini karena akan lebih kuat dan akan membantu dalam pembinaan kepribadian mereka.

Al-Qabisi adalah seorang ulama fiqih yang bermazhab Maliki dan ahli sunnah wal jama’ah yang mengikuti pikiran ulama Madinah. Ibnu Sina seorang ahli filsafat dan kedokteran yang mengetahui ilmu jiwa yang berfaham bebas.

BAB XIV

KEISTIMEWAAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

  1. Adanya korelasi antara bahan-bahan pelajaran dengan agama.
  2. Mewujudkan prinsip dan sistem desentralisasi dalam belajar.
  3. Asas persamaan dalam pengajaran dan demokratisasi dalam pendidikan Islam.
  4. Mengaitkan ajaran agama dengan kehidupan agama.
  5. Asas kewajiban mengajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Relevansi, Implikasi, dan Implementasi
dalam Pendidikan Islam di Indonesia

Dalam beberapa hal, pendidikan di Indonesia memiliki persamaan dan perbedaan dengan konsep pendidikan Islam terdahulu. Sebagai misal, sistem pendidikan umum dikembangkan mulai dari usia kanak-kanak, tingkat dasar, tingkat atas.

a)    Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan Islam di Indonesia yaitu pemaduan antara kedua sistem, menggabungkan antara pelajaran umum dan Islam. Dengan itu pendidikan Islam di Indonesia tidak hanya berorientasi pada pelajaran agama, akan tetapi diimbangi juga dengan pelajaran umum. Dengan ini, tujuan dan orientasi pendidikan Islam di Indonesia relevan dengan tujuan pendidikan Islam terdahulu, seperti dalam buku ini yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam berasaskan duniawi dan agama.

b)    Kurikulum Pendidikan

Kurikulum pendidikan Islam dalam buku ini di mulai dari kurikulum ibtidai yang mencakup pada kurikulum tingkat kanak-kanak dan pada usia murahaqah. Kemudian, kurikulum tingkat atas yaitu kurikulum yang berisi ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya untuk dikembangkan dan didalami secara khusus.

Hal ini sesuai dengan kurikulum Pendidikan yang ada di Indonesia.

c)    Metode Pendidikan

Adapun penerapan metode pengajaran/pendidikan Islam di Indonesia sangat variatif, metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali lebih dominan memakai metode ilmiah yang modern yaitu metode diskusi dan pengkajian. Dengan menerapkan metode yang ini diharapkan setiap kegiatan belajar mengajar adalah membantu tercapainya tujuan pengajaran.

Ibnu Khaldun menentang metode Verbalisme dalam pengajaran dan menghindari dari hapalan yang tidak memahami sesuatu yang dapat dibuktikan melalui panca indera dari bahan pelajaran yang dihafalkan anak.

Metode ini sering kita temukan dalam pendidikan Islam khususnya pada perguruan tinggi yang ada di Indonesia, mereka mengkaji suatu ilmu dengan menggunakan metode diskusi. Akan tetapi, di Indonesia masih kita temukan metode Verbalisme dalam pengajaran, misalnya yang diaplikasikan di sebagian pesantren yang ada di Indonesia.

Dan untuk metode mengajar dan gaya yang harus dipelihara guru menurut pandangan Ibnu Khaldun relevan dengan metode yang digunakan oleh pengajar  di Indonesia. Misalnya metode pentahapan dan pengulangan, menggunakan sarana tertentu untuk menjabarkan pelajaran, wisata-wisata, tidak memberikan presentasi yang rumit pada anak yang baru belajar. 

Pandangan Al-Qabisi tentang kewajiban mengajar yang menyeru kepada pemerintah dan orang tua bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak relevan dengan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia dalam programnya pada sekarang ini  wajib belajar 12 tahun.

Selain itu al-Qabisi juga berpendapat bahwa pendidikan adalah hak semua orang tanpa ada pengecualian. Yaitu dengan tidak membeda-bedakan antara anak yang kaya dan miskin dalam mengajarnya, konsep ini sesuai dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia di mana semua anak Indonesia mendapatkan pendidikan tanpa pengecualian.

Pandangannya tentang upah mengajar, di mana guru boleh untuk menerima upah dari mengajar, bahkan guru boleh menerima hadiah-hadiah pada hari besar. Ini sesuai dengan yang ada di Indonesia, yaitu guru mendapatkan upah dari mengajar, dan terkadang mendapatkan hadiah-hadiah pada hari besarnya, misalnya tunjangan hari raya atau hari lebaran.

Dengan demikian, sebagian Konsep pendidikan para ulama terdahulu sampai saat ini masih ada yang relevan dengan sistem pendidikan modern.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Buku ini menegaskan bahwa sebagian besar ilmuwan dalam bidang pendidikan Islam telah merumuskan permasalahan pendidikan secara rinci sejalan dengan pendidikan Modern dan relevan dengan pendidikan kita pada masa sekarang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resume Buku (Perbandingan Pendidikan Islam, Ali Al-Jambulati) | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *