SEJARAH KAJIAN PEMEROLEHAN BAHASA

 

 
 

 
 
 

SEJARAH KAJIAN PEMEROLEHAN BAHASA

 
Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, raja Mesir Psammetichus memiliki teori bahwa apabila seorang anak dipisahkan dari lingkungan bahasa manusia, kata pertama yang akan diucapkannya adalah kata yang berasal dari bahasa mahluk tertua di dunia. Psammeticus 1 menyuruh bawahannya untuk mengisolasi dua dari anaknya untuk mengetahui bahasa apa yang akan dikuasai anak-anak itu. Sebagai raja Mesir, ia mengharapkan bahasa yang keluar dari anak-anak itu adalah bahasa Arab. Namun ternyata kata pertama yang dikatakan oleh anak itu bukanlah bahasa Mesir, melainkan bahasa Phrygian. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa bahasa Phrygian lebih kuno daripada bahasa Mesir. banyak yang menyanggah teori ini.
Selain yang dilakukan raja Mesir dalam menemukan bahasa tertua dalam pemerolehan bahasa pertama anak itu, Charles Darwin pada tahun 1977 juga mencatat perkembangan bahasa anak lelakinya.

Ingram (1989) membagi perkembangan studi tentang pemerolehan bahasa menjadi tiga tahap, yaitu periode buku harian, periode sampel besar, dan periode kajian longitudinal (Chaer, 2005).

Periode buku harian berlangsung tahun 1876 sampai tahun 1926. Pada masa ini peneliti mencatat apapun yang diujarkan anak di dalam buku harian, kemudian data tersebut dianalisis untuk disimpulkan.

Periode sampel besar berlangsung tahun 1926 sampai tahun 1957. Untuk mendapat hasil yang sahih dan akurat diperlukan sampel yang besar. Ada peneliti yang memakai sampai 480 anak untuk mengetahui keterampilan-keterampilan tertentu pada anak (Templin dalam Chaer, 2005).

Periode kajian longitudinal dimulai dengan munculnya buku Chomsky Syntactic Structures (1957) yang merupakan titik awal lahirnya aliran mentalisme pada ilmu linguistik. Ciri utama periode ini adalah bahwa studi longitudinal memerlukan jangka waktu yang panjang karena yang diteliti adalah perkembangan sesuatu yang sedang dikaji dari satu waktu sampai ke waktu yang lain (Chaer, 2005). Selain itu, jumlah subjek juga lebih sedikit daripada periode sampel besar yang dilakukan oleh aliran behavioristik.

Meskipun telah dibagi menjadi tiga periode, bukan berarti setelah periode buku harian berakhir data-data yang telah dicatat di buku harian tidak digunakan lagi. Hal ini dibuktikan dengan karya Leopold yang ditulis tahun 1939 yang datanya adalah dari buku harian yang menurut Ingram berakhir pada tahun 1926.

Sumber: 
 Chaer, Abdul. 2005. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia: Jakarta:      Yayasan Obor Indonesia.

 

POSTULAT MENGENAI TATA BAHASA DAN PRAGMATIK

 
Berbicara mengenai hubungan tata bahasa dengan pragmatik pada prinsipnya berbicara mengenai persamaan dan perbedaan keduanya. Pada dasarnya tata bahasa (yang merupakan sistem bahasa yang formal dan abstrak) dan pragmatik (yang merupakan prinsip-prinsip penggunaan bahasa) merupakan dua ranah yang komplementer, yang saling melengkapi di dalam linguistik. Kita tidak dapat memahami hakikat bahasa dengan baik tanpa menelaah kedua ranah ini beserta interaksi antara keduanya.

Geoffrey N. Leech (1983:5) telah mengemukakan beberapa postulat atau patokan mengenai tata bahasa dan pragmatik seperti berikut ini:

Postulat 1: Representasi semantik suatu kalimat berbeda dari interpretasi pragmatiknya.

Postulat 2: Semantik bersifat tunduk pada kaidah (=gramatik) sedangkan pragmatik bersifat diatur oleh prinsip (=retoris).

Postulat 3: Kaidah-kaidah tata bahasa pada dasarnya bersifat konvensional, sedangkan prinsip-prinsip pragmatik umum pada dasarnya bersifat nonkonvensional.

Postulat 4: Pragmatik umum menghubungkan pengertian (atau makna gramatis) sesuatu ucapan dengan kekuatan pragmatik (ilokusi)nya. Hubungan ini secara relatif dapat langsung atau tidak langsung.

Postulat 5: Persesuaian-persesuaian gramatik dibatasi dengan pemetaan sedangkan persesuaian-persesuaian pragmatik dibatasi dengan aneka masalah beserta pemecahannya.

Postlat 6: Penjelasan-penjelasan gramatik pada dasarnya bersifat formal sedangkan penjelasan-penjelasan pragmatik terutama sekali bersifat fungsional.

Postulat 7: Tata bahasa bersifat ideasional, pragmatik bersifat interpersonal dan tekstual.

Postulat 8: Pada umumnya tata bahasa dapat diperikan dengan bantuan kategori-kategori tersendiri dan tertentu; pragmatik dapat diperikan dengan bantuan nila-nilai yang berkesinambungan dan tidak tentu.

Sumber: Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

 

SUBDISIPLIN PSIKOLINGUISTIK

 
Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik. Subdisiplin Psikolinguistik sebagai berikut.

a. Psikolinguistik Teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.

b. Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.

c. Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan suatu gejala dan identitas sosial, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.

d. Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan

e. Psikolinguistik Neurologi
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk di dalam otak.

f. Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa di pihak lain.

g. Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra.

Sumber: Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

SEJARAH LAHIRNYA PRAGMATIK

 
Dulu, catatan-catatan kebahasaan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa sehari-hari (yang dikaji dalam pragmatik) cenderung disingkirkan oleh para ahli bahasa dan ahli filsafat. Catatan-catatan itu semula tidak ditata di bawah satu kategori tunggal. Isi tersebut didefinisikan secara negatif, sebagai bahan yang tidak mudah ditangani dalam sistem-sistem analisis resmi. Namun, manusia tidak dapat memungkiri bahwa analisis-analisis bahasa secara struktural saja belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok mengenai struktur bahasa sehari-hari yang seringnya tidak sesuai dengan struktur di dalam teori, selain itu bentukan kalimat yang dianggap benar menurut kajian bahasa secara struktural ternyata dalam studi makna kalimat tersebut tidak dapat diterima. Sederhananya, pragmatik ada untuk melengkapi kajian bahasa dalam tataran sintaksis dan semantik.
 
Secara lebih jelas, alasan kajian ilmu bahasa dalam tataran sintaksis hanya mengkaji bahasa berdasarkan struktur dalamnya, tanpa memperhatikan makna kalimat. 
contoh:
 
(1) Ibu membeli buku di toko buku.
 

 

Kalimat tersebut  secara struktur sudah benar, yaitu terdiri atas subjek (Ibu) yang berkategori nomina, predikat (membeli) yang berkategori verba, objek (buku) yang berkategori nomina, keterangan tempat (di toko buku). Bandingkan dengan contoh kalimat (2).

 
 
(2) Botol membeli buku di toko buku.
 
 
 
Secara struktur, kalimat (2) sudah benar karena kalimat tersebut sudah mencakup subjek (botol) yang berkategori nomina, predikat (membeli) yang berkategori verba, objek (buku) yang berkategori nomina, dan keterangan (di perpustakaan). Tentu kalimat tersebut tidak dapat kita terima karena botol merupakan benda mati yang tidak dapat melakukan suatu pekerjaan. Ketidakberterimaan tersebut dapat dijelaskan di dalam ilmu semantik, yaitu bahwa subjek Ibu di dalam kalimat (1) memiliki fitur-fitur distingtif salah satunya adalah [+insani], sedangkan botol memiliki fitur distingtif [-insani] sehingga kata tersebut tidak bisa digunakan untuk menggantikan kata Ibu di dalam kalimat (1). Kata-kata yang dapat menggantikan kata Ibu adalah kata-kata yang juga memiliki fitur distingtif [+insani], seperti Bapak, Dian, Mereka, dan lain-lain.
Selanjutnya, karena dalam penggunaan bahasa sehari-hari ternyata kadang manusia menggunakan kalimat-kalimat yang jika dianalisis secara semantik tidak dapat diterima. Misalnya dalam percakapan (3).
 
(3) A: Kamu sudah makan?
     B: Itu ada makanan di meja.
 
 
Secara semantik, tuturan A dan B tidak dapat diterima, sebab pertanyaan A hanya membutuhkan jawaban sudah atau belum. Permasalahan-permasalahan seperti ini, yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu sintaksis dan semantik ternyata dapat dijawab oleh ilmu pragmatik. Dalam percakapan tersebut, penutur B paham bahwa maksud dari pertanyaan A adalah dia mau mengajak B makan (mungkin), atau kalimat itu memiliki maksud bahwa penutur A lapar (mungkin), sehingga jawaban sudah atau belum tidaklah dibutuhkan A dalam konteks ini. Maka dari itulah B mengatakan bahwa di meja ada makanan yang boleh dimakan oleh A. Jawaban seperti B lebih dibutuhkan oleh A. 
 
 
Itu merupakan contoh kecil mengapa ilmu pragmatik ini akhirnya dikembangkan oleh para ahli bahasa.
 
 
 
 

 

INDUK DISIPLIN PSIKOLINGUISTIK

 
Karena nama psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik maka muncul pertanyaan apa induk disiplin psikolinguistik itu, linguistik atau psikologi?

Beberapa pakar berpendapat psikolingusitik berinduk pada spikologi karena istilah itu merupakan nama baru dari psikologi bahasa yang telah dikenal beberapa waktu sebelumnya. Namun di Amerika Serikat pada umumnya, psikolinguistik dianggap sebagai cabang dari linguistik, meskipun Noam Chomsky cenderung menempatkan psikolinguistik sebagai cabang psikologi. Di Perancis pada tahun enam puluhan psikolinguistik dikembangkan oleh pakar psikologi, sedangkan di Inggris psikolinguistik dikembangkan oleh pakar linguistik yang bekerja sama dengan beberapa pakar psikologi dari Inggris dan Amerika Serikat. Di Rusia psikolinguistik telah dikembangkan oleh para pakar linguistik pada Institut Linguistik Moskow. Sebaliknya, di Rumania ada kecenderungan menempatkan psikolinguistik sebagai satu disiplin mandiri, tetapi penerapannya lebih banyak diambil oleh linguistik

Di Indonesia, paikolinguistik dikembangkan di bidang linguistik pada fakultas-fakultas pendidikan bahasa dan belum pada program nonkependidikan bahasa. Psikolinguistik yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa sudah seharusnya diserasikan dengan perkembangan linguistik dan perkembangan psikologi. Untuk itu dituntut adanya penguasaan yang seimbang akan teori-teori psikologi. Lalu, yang patut dikembangkan dalam pendidikan bahasa adalah subdisiplin psikolinguistik perkembangan dan psikolinguistik pendidikan.

Sumber: Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

 

SEJARAH LAHIRNYA PSIKOLINGUISTIK

 
Psikolinguistik merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikoogi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkalan psikolog Jerman Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang “ilmiah”.

Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik, realita, dan ilmu kognitif.

a. Tahap Formatif
Pertengahan abad kedua puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.

b. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures,  dan kritik tajam dari Chomsky terhadap behavioristik B.F. Skinner telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini semakin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa, khususnya pertanyaan “mengapa anak di manapun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama”.

Kesamaan dalam strategi ini didukung juga oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.

Keterkaitan neurobiologi mendukung pandangan Chomsky yang mengatakan bahsa pertumbuhan bahasa pada manusia terprogram secara genetik. Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Ketidakberhasilan semua penelitian ini membuktikan bahsa pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia.

c. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. pmerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnaya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.

Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tidak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat diganti dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.

Pada tahap ini orang juga mulai bicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennerberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologisnya.

d. Tahap Teori Psikolinguistik
 Pada tahap akhir ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.

Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahil manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof – apa pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.

Dengan kata lain, psikolinguistik kini telah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu lain.

Sumber: Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

 

PENGERTIAN MAKNA

 
Menurut Ferdinan de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri atas dua unsur, yaitu signifie (yang diartikan) dan signifiant (yang mengartikan). Yang diartikan adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi, sedangkan yang mengartikan tidak lain adalah bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda linguistik terdiri atas unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unrus tersebut adalah unsur dalam bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk pada sesuatu referen yang merupakan unsur luar bahasa (ekstralingual).

Di samping itu, makna juga sering diartikan sebagai pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu (terutama kata-kata). Makna menurut Palmer hanya menyangkut intrabahasa. Sejalan dengan pendapat tersebut. Lyons menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dengan kata lain. Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya, sehingga dapat saling mengerti. Makna memiliki tiga tingkat keberadaan, yaitu:
a. pada tingkat pertama, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan,
b. pada tingkat kedua makna menjadi isi dari suatu bahasa,
c. pada tingkat ketiga makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu.

Pada tingkat pertama dan kedua dilihat dari segi hubungannya dengan penutur, sedangkan yang ketiga lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi. Mempelajari makna pada hakikatnya mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa daam suatu masyarakat bahasa saling mengerti.

Sumber: Handout Semantik, Drs. Hari Bakti Mardikantoro, M.Hum.

 

 

 
 

 

 

 

 
SEJARAH KAJIAN PEMEROLEHAN BAHASA | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *