Sistem Pengajaran Pondok Pesantren

  1. 1.      Sistem Pengajaran Pondok Pesantren
    1. a.      Sistem Non Klasikal

Sistem ini merupakan sistem yang pertama kali dipergunakan dalam pondok pesantren. Dalam sistem ini tidak ada teknik pengajaran yang dijabarkan dalam bentuk kurikulum dan tak ada jenjang tingkatan pendidikan yang ditentukan. Sedang banyak atau sedikitnya pelajaran yang diperoleh para santri menurut pola pembinaan kyai dan ketentuan para santri. Evaluasi hasil pendidikannya dilakukan oleh santri yang bersangkutan.

Dalam sistem ini santri mempunyai kebebasan dalam memilih mata pelajarannya dan menentukan kehadiran tingkat pelajaran, sikap dalam mengikuti pelajaran dan waktunya belajar. Santri merasa puas dan cukup ilmunya akan meninggalkan pesantren untuk pulang ke kampung halamannya atau pergi belajar ke pondok lain untuk menambah ilmu dan pengalamannya.

Ada tiga metode yang digunakan dalam sistem non klasikal ini, yaitu:

  1. Metode Sorogan / cara belajar individual

Dalam metode ini setiap santri memperoleh kesempatan sendiri untuk memperoleh pelajaran secara langsung dari kyai. Tentang metode sorogan ini digambarkan oleh Dawam Rahardjo sebagai berikut:

“Para santri menghadap guru atau kyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya, kemudian guru membacakan pelajaran yang berbahasa Arab itu kalimat demi kalimat, kemudian menterjemahkan dan menerangkanannya. Santri menyimak dan mengasahi dengan memberi catatan pada kitabnya untuk mensyahkan bahwa ilmu itu sudah diberikan oleh guru/kyai.”[1]

 

Istilah sorogan tersebut mungkin berasal dari kata sorog (Jawa) yang berarti menyodorkan. Sebab, setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan guru/kyainya. Metode sorogan ini terbukti sangat efektis sebagai taraf pemula bagi seorang santri yang bercita-cita menjadi seorang alim. Di samping itu metode ini memungkinkan bagi seorang guru/ustadz untuk mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai bahasa Arab/kitab-kitab yang diajarkan.

  1. Metode Bandongan/Waton (Khalaqah/Klasikal)

Dalam metode ini sering disebut dengan sistem melingkar/ lingkaran, yang mana para santri duduk di sekitar kyai dengan membentuk lingkaran. Kyai mengajarkan kitab tertentu kepada sekelompok santri yang masing-masing memegang kitab sendiri.

Tentang metode ini, Zamakhsyari Dhofier menyatakan sebagai berikut:

“Sekelompok murid yang berjumlah antara 5 sampai 500 orang mendengarkan seorang guru/kyai yang membaca, menterjemahkan dan menerangkan dan seringkali memberikan ulasan buku-buku Islam yang berbahasa Arab, dan setiap murid membuat catatan baik mengenai arti maupun keterangannya yang dianggap agak sulit.”[2]

 

Dalam khalaqah ini para santri didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Santri yang mempunyai kecerdasan tinggi tentu akan cepat menjadi alim. Melalui pengajaran secara khalaqah ini dapat diketahui kemampuan para santri pemula dan secara tidak langsung akan teruji kealiman serta kepandaiannya.

  1. Metode Demontrasi / Praktek Ibadah

Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan cara memperagakan (mendemonstrasikan) suatu ketrampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok di bawah petunjuk dan bimbingan kyai atau guru dengan kegiatan seperti berikut:

“Para santri mendapatkan penjelasan tentang tatacara pelaksanaan ibadah yang dipraktekkan sampai betul-betul memahaminya, selanjutnya para santri secara bergiliran memperagakan di hadapan guru sampai benar-benar selesai.”[3]

 

  1. b.      Sistem Klasikal

Dalam perkembangannya di samping mempertahankan sistem ketradisionalannya, juga mengelola dan mengembangkan sistem pendidikan madrasah. Pengembangan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi di masyarakat, serta untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang semakin maju dalam bidang pendidikan. Perubahan itu bisa bersifat memperbaharui atau bisa juga upaya untuk menyempurnakan sistem lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan masyarakat.

Perubahan dalam sistem pendidikan adalah mengubah dari sistem non klasikal (sorogan, bandongan atau wetonan), menjadi sistem klasikal yaitu mulai dimasukkan sistem madrasah pada pondok pesantren dengan berbagai jenjang pendidikan mulai tingkat Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), Aliyah (SMU) sampai dengan tingkat Perguruan Tinggi.

Kedua sistem tersebut memepunyai perbedaan, pada sistem madrasah terkesan lebih maju dan modern karena adanya sistem klasikal, pelajaran umum, pendidikan keterampilan (seperti PKK, jahit menjahit, perkoperasian atau mungkin juga pertanian, kerajinan, pertukangan dan sebagainya), pendidikan kesenian, pendidikan olah raga dan kesehatan, pendidikan kepramukaan serta memakai bahasa pengantar menggunakan bahasa Indonesia.Sedang dalam sistem pokok pesantren (non klasik), meskipun tidak didapatkan seperti sistem yang terdapat pada sistem madarasah, namun memiliki kelebihan dan keahlian yaitu bisa mengajarikan pengetahuan agama secara lebih mendalam.

Dengan melakukan perubahan semacam itu yakni dengan memasukkan sistem klasikal kedalam pondok pesantren sudah barang tentu akan mempengaruhi sistem penddidikannya.

Adapun mengenai gambaran sistem pendidikan Nasional, sebagaimana dijelaskan oleh M Habib Chirzin sebagai berikut:

“Sistem madrasah atau klasikal yaitu dengan menggunakan alat peraga, evaluasi dengan berbagai variasinya dan juga latihan-latihan ,prinsip-prinsip psikologi perkembangan pendidikan dan proses belajar mulai diterapkan, dan metode pengajaran baru pada masing-masing fakultas dipraktekkan. Kenaikan kelas/tingkat pembahasan masa sekolah/balajar diadakan sembari administrasi sekolah pun dilaksanakan dalam organisasi yang tertib.”[4]

 

Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas pada sistem ini sebagaimana diungkapkan oleh M. Chirzin, yaitu dalam sistem klasikal ini sudah menggunakan alat peraga sebagai penunjang proses belajar mengajarnya. Evaluasi dilaksanakan secara terencana. Menerapkan psikologi perkembangan dalam menghadapi anak didik berbagai metode dalam mengajar dan pembatasan masa belajar dan penjejangan sudah jelas, serta administrasi sekolah tertib dan teratur.

Pesantren yang menggunakan sistem klasikal ini sudah banyak mengadopsi sistem pendidikan odern meskipun masih nampak karakteristik aslinya yang membedakan dirinya dengan lembaga-lembaga yang lain, sehingga variasi sistem pendidikan yan dilaksanakan banyak kesamaannya dengan sistem pendidikan umum atau modern dan juga sudah dimasukkan mata pelajaran sebagai sistem pengetahuan bagi para santrinya serta untuk memperluas wawasan keilmuannya.



[1] M. Dawam Rahardjo, Pergaulan DuniaPesantren, P3M, Jakarta 1985, hal. VII

[2] Zamakhsyari Dhofier, Op. Cit, hal. 28

[3] Departemen Agama, Op. Cit, hal. 47

 

[4] M. Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, Opt. Cit, hal. 89

 

Sistem Pengajaran Pondok Pesantren | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *