SKIZOFRENIA

 

 
 

 
 

SKIZOFRENIA

 
 
sumber gambar: http://doktersehat.com/skizofrenia/

Skizofrenia adalah penyakit jiwa yang umum terjadi. Royal College of Psychiatrists di Inggris melaporkan bahwa satu orang di antara 100 orang mengembangkan skizofrenia pada suatu saat pada hidupnya. Wu dkk. (2006) menggunakan beberapa database klaim administratif untuk mengkalkulasi prevalensi tahunan skizofrenia yang terdiagnosis di Amerika Serikat. Para peneliti ini melaporkan bahwa pada tahun 2002 prevalensi dua belas bulan skizofrenia yang terdiagnosis diperkirakan sebesar 5,1 per 1000 jiwa. Angka kejadian skizofrenia jauh lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. McGrath (2006) melaporkan rasio laki-laki dan perempuan 1:4. Angka kejadian skizofrenia juga lebih tinggi pada para migran dan orang-orang yang tinggal di perkotaan (McGrath, 2006). Usia pada permulaan terjangkitnya penyakit ini juga berbeda-beda antara laki-laki dan perempuan, dengan laki-laki biasanya mengembangkan skizofrenia lebih awal daripada perempuan. 
Gorwood dkk. (1995) meneliti populasi 663 penderita skizofrenia dan menemukan usia rata-rata pada permulaan terjadinya penyakit ini pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 27,8 tahun dan 31,5 tahun. Kajian terhadap orang kembar dan keluarga menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peranan yang signifikan dalam kasus skizofrenia. Risiko terkena skizofrenia pada kerabat yang diduga mengidap skizofrenia berkorelasi dengan tingkat gen yang dimiliki bersama. Pada kerabat tingkat pertama seperti orang tua (50% memiliki gen yang sama) dna pada kerabat tingkat kedua seperti paman dan bibi (25% memiliki gen yang sama), risiko terkena penyakit skizofrenia masing-masing adalah 6% dan 2% (Tsuang, 2000).

Sekarang terbukti bahwa semua tingkat bahasa menjadi terganggu pada skizofrenia. Tingkat-tingkat ini mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Gangguan morfemik pada skizofrenia dapat dilihat pada hilangnya akhir kata seperti -ed dan -ion dalam ujaran berikut yang dibuat oleh penderita yang dikaji oleh Chaika: “I am being help with the food and the medicate…” (1990:24). Kesalahan sintaksis lebih umum terjadi pada skizofrenia. Para penderita diketahui menggunakan frase-frase kata depan dan kata kerja yang tidak lengkap. [….] DeLisi (2001) menemukan bahwa kompleksitas kalimat berkurang dalam skizofrenia. Para subjek yang menderita skizofrenia kronis dalam kajian ini memperlihatkan berkurangnya klausa gabungan dan klausa sematan. Semantik leksikal dalam skizofrenia menjadi terganggu. […] Berbagai pilihan leksikal yang aneh juga umum terjadi. […].

Defisit pragmatik pada skizofrenia telah diteliti secara luas selama bertahun-tahun. Bukti perilaku menunjukkan bahwa para penutur yang mengidap skizofrenia tidak bisa mengerjakan dengan baik tes-tes perencanaan dan pemahaman, tidak mampu memahami humor, sarkasme, metafor dan permintaan tidak langsung, dan mereka tidak mampu menghasilkan dan memahami prosodi yang berkaitan dengan emosi (Mitchell dan Crow, 2005). […] Berbagai kajian eksperimen berulang kali menunjukkan bahwa para subjek yang mengalami skizofrenia tidak mampu memproses aspek-aspek konteks linguistik. […].

Pada skizofrenia, pelemahan pragmatik berkaitan dengan defisit kognitif. Linscott (2005) meneliti hubungan antara pelemahan pragmatik bahasa, gangguan pikiran dan kemunduran kognitif umum pada dua puluh penderita skizofrenia. […] Pelemahan pragmatik bahasa dan kemunduran kognitif umum ditemukan pada subjek yang menderita skizofrenia. […] Linscott mengatakan bahwa pelemahan pragmatik bahasa pada skizofrenia terjadi setelah terjadinya kemunduran kognitif umum. […] Kiang dkk.(2007) menemukan bahwa kesulitan dalam menginterpretasikan peribahasa pada delapan belas penderita skizofrenia secara signifikan berkorelasi dengan defisit memori kerja pada para pasien ini, sekaligus berkorelasi dengan pelemahan dalam fungsi eksekutif, enkoding sensoris-memori dan fungsi sosial/pekerjaan. Dalam kajian terhadap tiga puluh sembilan pasien skizofrenia, Corcoran (2003) menemukan korelasi yang kuat antara perfosmansi dalam mengerjakan tugas penalaran induktif dan tugas pragmatik bahasa yang menuntut subjek untuk menyimpulkan maksud penutur.

[…] Kircher dkk. menyimpulkan bahwa girus frontal dalam dan girus temporal atas merupakan kawasan fokus dalam neuropatologi skizofrenia. Disfungsi kedua girus ini tampaknya mendasari gejala klinis konkretisme, yang tercermin dalam pemahaman yang rusak terhadap struktur-struktur bahasa nonharfiah yang rumit semantiknya (207:287).

Sumber: Cummings, Louise. 2010. Pragmatik Klinis: Kajian tentang Penggunaan dan Gangguan Bahasa Secara Klinis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

 

 

0 komentar:

 

Poskan Komentar

 

 

 
 

 

 

 

 
SKIZOFRENIA | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *