Status Gizi dan Pengukurannya

Menurut  Hermana  (1993)  status gizi merupakan  hasil masukan  zat gizi makanan dan pemanfaatannya di dalam tubuh. Sedangkan Riyadi (1995) mendefinisikan status gizi sebagai keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok  orang yang diakibatkan  oleh konsumsi,  penyerapan  (absorpsi)  dan penggunaan  (utilization)  zat gizi makanan  yang ditentukan  berdasarkan  ukuran tertentu.

Pencapaian  status gizi yang baik, didukung oleh konsumsi pangan yang mengandung zat gizi cukup dan aman untuk dikonsumsi.  Bila terjadi gangguan kesehatan, maka pemanfaatan zat gizi pun akan terganggu. Bayi yang berstatus gizi lebih baik dan sehat, lebih berpeluang mempunyai kemampuan  mental dan intelektual  yang  lebih  baik  dan  mempunyai  usia  harapan  hidup  dan  waktu produktif  yang lebih tinggi  (FNB-NAS  1990). Oleh karena  itu, perhatian  akan pemenuhan  kecukupan  gizi dan kesehatan  pada bayi menjadi  semakin penting. Cukup beralasan bahwa salah satu tujuan kebijakan pangan dan gizi di Indonesia adalah perbaikan mutu gizi makanan penduduk, khususnya golongan rawan gizi seperti anak dibawah lima tahun termasuk bayi dan ibu menyusui

Status gizi pada saat bayi dapat memberi andil terhadap status gizi anak- anak  bahkan  masa  dewasa  (Winarno  1990).  Mengingat  pentingnya  status  gizi masa  bayi,  maka  orang  tua dalam  hal  ini ibu mempunyai  peran  yang penting untuk dapat mengendalikan agar status gizi anaknya dapat mencapai optimal.

Kebutuhan nutrisi pada saat menyusui jauh lebih besar dibandingkan pada saat kehamilan. Pada 4-6 bulan pertama melahirkan, berat seorang bayi menjadi dua kali lipat dibandingkan pada saat umur sembilan bulan di dalam kandungan. Susu yang dihasilkan selama 4 bulan mengandung energi yang ekuivalen dengan energi total pada waktu kehamilan. Tetapi, meskipun demikian sejumlah energi dan banyak dari nutrien yang dimakan selama kehamilan dipergunakan untuk mendukung produksi dari ASI. Jumlah ASI yang diproduksi pada masa menyusui, energi dan kandungan dari nutrisi, jumlah energi yang dibutuhkan ibu serta nutrisi yang  tersedia.  Kebutuhan  nutrisi  pada  masa  menyusui  meningkat  hingga  500 kal/hari yang disertai dengan peningkatan kebutuhan protein, vitamin dan mineral. Masa menyusui yang cukup lama merupakan masa drainase zat-zat makanan bagi

 

 

ibu, karena melalui ASI, sang ibu memberikan kepada bayinya zat-zat gizi yang cukup   untuk   pertumbuhan   bayi   normal.   Oleh   karena   itu   ibu   menyusui memerlukan sejumlah zat-zat gizi yang lebih banyak dari ibu yang sedang hamil, apalagi bila ibu itu tetap bekerja secara aktif di rumah atau di luar rumah. Bila ibu tidak  mendapat  tambahan  gizi  yang cukup,  maka  ibu akan  menjadi  kurus  dan mudah letih, karena zat-zat makanan yang diperlukan untuk ASI diambil dari jaringan tubuh ibu. Oleh karena itu selama masa ASI ekslusif atau sebelum bayi mendapatkan makanan pendamping, tidak dianjurkan untuk melakukan diet penurunan berat badan.

Proses menyusui dapat dikatakan  berhasil jika bayi berkembang  dengan baik dan status biokimia  yang normal.  Jumlah ASI yang dikonsumsi  bayi dan komposisi   nutrisi   dari   ASI   biasa   digunakan   sebagai   dasar   untuk   melihat adekuatnya nutrisi dari ibu pada masa menyusui (As’ad 2002).

Menurut   Nyoman et al. (2001) penilaian status gizi dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dilakukan dengan cara :

1.   Anthropometri  yaitu diartikan secara umum ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari  sudut  pandang  gizi,  anthropometri  gizi  berhubungan  dengan  berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Penggunaan anthropometri ini secara umum digunakan untuk                             melihat     ketidakseimbangan            asupan protein dan               energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan  tubuh  seperti  lemak,  otot dan jumlah  air dalam  tubuh.  Sedangkan menurut Jelliffe (1989) anthropometri merupakan metode pengukuran secara langsung dan yang paling umum digunakan untuk menilai dua masalah gizi utama yaitu masalah gizi kurang (terutama pada anak-anak dan wanita hamil) dan masalah  gizi lebih pada semua kelompok  umur. Menurut  suhardjo  dan Riyadi  (1990)  pengukuran  status  gizi  dengan  menggunakan  anthropometri dapat memberikan gambaran tentang status konsumsi energi dan protein seseorang. Oleh karena itu, anthropometri sering digunakan sebagai indikator status  gizi yang berkaitan  dengan  masalah  kurang  energi-protein.  Indikator anthropometri yang sering dipakai ada tiga macam yaitu : berat badan untuk mengetahui  massa  tubuh,  tinggi  badan  untuk  mengetahui  dimensi  linear

 

 

panjang   tubuh   dan  tebal   lipatan   kulit   serta   lingkar   lengan   atas  untuk mengetahui komposisi dalam tubuh, cadangan energi dan protein. dalam penggunaan  indikator  anthropometri  tersebut  selalu  dibandingkan  dengan umur dari yang akan diukur. Atas dasar itu maka penentuan status gizi dengan menggunakan anthropometri adalah dengan indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi (BB/TB), dan lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) (WHO 1995).

Berat badan  mencerminkan  masa tubuh,  seperti otot dan lemak yang peka terhadap perubahan sesaat karena adanya kekurangan gizi dan penyakit. Oleh karena itu, indeks BB/U menggambarkan keadaan gizi saat ini. Tinggi badan menggambarkan skeletal yang bertambah sesuai dengan bertambahnya umur dan tidak begitu peka terhadap perubahan sesaat. Oleh karena itu indeks TB/U lebih banyak menggambarkan keadaan gizi seseorang pada masa lalu. Indeks BB/TB mencerminkan perkembangan massa tubuh dan pertumbuhan skeletal yang menggambarkan  keadaan gizi saat itu. Indeks BB/TB sangat berguna apabila  umur  yang  diukur  sulit  diketahui.  lingkar  lengan  atas  memberi gambaran  tentang  keadaan  jaringan  otot  dan  lapisan  lemak  bawah  kulit. Seperti  halnya  dengan  berat  badan,  indikator  LLA  dapat  naik  dan  turun dengan cepat, oleh karenanya LLA/U merupakan indikator status gizi saat ini. Diantara  indikator-indikator   anthropometri  yang  telah  disebutkan,  indeks BB/U merupakan pilihan yang tepat untuk dipergunakan dalam rangka pemantauan status gizi sebab sensitif terhadap perubahan mendadak dan dapat menggambarkan keadaan gizi saat ini (Khumaidi 1997). Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/U, hasilnya kemudian dibandingkan dengan data anthropometri  standar  WHO-NCHS  (National  Center  for Health  Statistics) (WHO 1995), dengan kriteria adalah gizi lebih bila skor-z > 2; normal bila skor- z antara -2 dan 2, gizi kurang bila skor-z < -3 hingga -2 dan gizi buruk bila skor-z < -3.

2.   Pemeriksaan  secara klinis  yaitu  metode  yang sangat  penting  untuk  menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut

 

 

dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti  kelenjar  tiroid.  Penggunaan  metode  ini  umumnya  digunakan  untuk survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang  dengan  melakukan  pemeriksaan  fisik  yaitu tanda  (sign)  dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

3.   Biokimia yaitu penilaian status gizi dengan melakukan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa  jaringan  tubuh  seperti  hati  dan  otot.  Metode  biokimia  digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan  akan terjadi keadaan malnutrisi yang  lebih  parah  lagi.  Banyak  gejala  klinis  yang  kurang  spesifik,  maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.

4.   Penilaian status gizi secara biofisik yaitu merupakan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Metode ini digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.

 

 

Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dilakukan dengan cara :

 

1.  Survei konsumsi makanan yaitu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan  data konsumsi  makanan  dapat memberikan  gambaran  tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.

2.   Statistik Vital yaitu pengukuran status gizi dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian  akibat  penyebab  tertentu  dan data lainnya  yang berhubungan dengan gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.

 

 

3.   Faktor Ekologi, malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia  sangat tergantung  dari keadaan  ekologi seperti iklim, tanah,  irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.

 

 

Gambar 1 Metode penilaian status gizi

 

 

Penilaian status gizi

 

 

 

 

 

Pengukuran langsung                                  Pengukuran tidak langsung

 

 

 

 

 

1.   Anthropometri

2.   Biokimia

3.   Klinis

4.   Biofisik


1.   Survei konsumsi

2.   Statistik vital

3.   Faktor ekologi

 

 

 

Sumber : Jelliffe (1989)

 

 

Status Gizi dan Pengukurannya | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *