Tasawuf dan Syariat

Tasawuf dan syariat

Sebagian org menilai ilmu tasawuf adalah ilmu yg menyimpang dari syariat Rasulullah SAW,  sehingga pelaku tasawuf sering dicaci bahkan di kafirkan oleh org2 bodoh yg tidak mempunyai ilmu itu.

Banyak faktor yg pendukung utk mencaci para sufi, antara lain byknya pendakwa yg mengaku2 sebagai para sufi dan mursyid tharikat yg tidak mengenal ilmu sufi itu sendiri. Sehingga mereka membikin definisi semaunya tentang tasawuf.

Orang yg tidak waras dan bicara ngelantur mereka anggap sebagai sufi dan wali,  para peramal dan dukun dianggap sebagai kasyaf, yg tidak shalat lima waktu dan membiarkan anak istrinya tidak memakai jilbab serta memakan riba dan bahkan pendukung segala kemaksiatan mereka artikan maqam/kedudukan yg blm bisa di capai oleh org awam.

Pembiaran hal seperti ini akan menjadikan ilmu yg mulia ini menjadi bulan2an para pendengki tasawuf.
Mari simak apa sebenarnya ilmu tasawuf dan hubungannya dgn syariat yg di bawa oleh Nabi suci Muhammad SAW.

Sahal bin Abdulllah At-Tustari berkata, “Haram bagi hati mencium bau yakin sementara di sana terdapat kecenderungan kepada selain Allah SWT.”

Abu Qasim Al-Junaid bin Muhammad, imam kelompok tasawuf menuturkan, “Siapa yang tidak hafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadits, ia tidak patut menjadi teladan dalam tasawuf, sebab ilmu kami terikat oleh Al-Qur’an dan sunnah.”
Ia juga menuturkan, “Madzhab kami, yaitu tasawuf, terikat oleh asas-asas Al-Qur’an dan sunnah. Ilmu kami dikuatkan oleh hadits Rasulullah SAW.” Ia juga berkata, “Semua thariqat tertutup bagi manusia, kecuali siapapun yang meniti jejak Rasulullah SAW.”

Abu Hafsh menyatakan, “Baiknya etika lahiriah merupakan pertanda baiknya etika batin, sebab nabi SAW. bersabda, ‘Andai hati orang ini khusyuk niscaya seluruh anggota badannya khusyuk’.”

An-Nashr Abadzi berkata, “Landasan tasawuf adalah berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah, meninggalkan hawa nafsu, bid’ah, rukhshah dan berbagai macam takwil.”
Hafsh menuturkan, “Siapapun yang tidak menimbang semua tutur kata dan kondisinya setiap saat berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah serta tidak mengoreksi isi hati, ia tidak termasuk dalam daftar nama-nama tokoh sufi.”

Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sahal bin Atha berkata, “Barangsiapa menerapkan etika-etika syariat pada dirinya, Allah SWT akan terangi hatinya dengan cahaya makrifat.”

Mengingat seperti itulah kondisi tasawuf, maka tidak ada alasan untuk dicela ataupun dipungkiri, kecuali bagi mereka yang benar-benar terhalang untuk meraih kebaikan, memiliki akidah menyimpang dan hina.

Bagaimana orang-orang pilihan seperti mereka diingkari, padahal isi kitab-kitab tulisan mereka sama sekali tidak bertentangan dgn syariat, kisah-kisah hidup dan karamah mereka juga sgt masyhur.

Penyimpangan yg terjadi bukan dari para ulama sufi tapi lebih krn para pengklaim yg mencari popularitas dan materi dari ilmu yg byk tidak diketahui org awam. Sehingga ilmu kelenik dan khurafat mereka kloning kemudian mereka namakan tasawuf.

Tasawuf yg benar adalah seperti pendapat para ulama ahli tasawuf bkn pendapat org yg anti atau para peramal yg mengaku2 sufi.

Tasawuf adalah melepaskan diri dari semua akhlak tercela dan merasuk ke dalam seluruh akhlak yg luhur.”

Tasawuf dan Syariat | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *