Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren

  1. 1.      Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren

Menurut peninjauan kembali keberadaan pondok pesantren, maka akan nampak jelas sekali pandangan tentang pondok pesantren yang kurang kondusif bagi peranan-peranan besar yang seharusnya diselesaikan. Peninjauan tidak perlu diadakan melihat fisiknya, karena menurut analisa, bahwa bukan dari segi fisiknya yang mendapat tempat prioritas.

Dari segi non fisiknyalah yang perlu kita perhatikan, sebab titik tolak perubahan perkembangan, pertumbuhan dan kemajuan pesantren adalah dari segi sikap jiwa keseluruhan.

Karena kurang jelasnya pendidikan pesantren, dan rupanya sampai sekarang tidak ada pesantren yang mampu dan secara sadar merumuskan tujuan pendidikan dan merealisasikan dalam tahapan-tahapan rencana kerja/program (program cawu, semester, dan lain-lain) mungkin kebutuhan kepada hal tersebut realtif baru.

M. Dawam Rahardjo menerangkan, bahwa persoalan tentang tidak adanya perumusan itu disebabkan karena tujuan itu diserahkan pada proses improvisasi menurut perkembangan yang dipilih sendiri oleh seorang kyai bersama stafnya secara intuitif.[1]

Tidak jelasnya penentuan tujuan pendidikan pesantren secara menyeluruh dari sekian pesantren yang ada di seluruh penjuru wilayah negara kita mengakibatkan kesulitan dalam menentukan tujuan kurikulum dan materi pelajaran yang disajikan secara menyeluruh pada tiap-tiap pesantren. Hal ini disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan pesantren yang memiliki tradisi yang berbeda-beda.

Walaupun tujuan pendidikan pesantren tidak terjerumuskan secara jelas, namun tidak boleh kita membuat grafik penilaian secara individu dalam hal membenarkan atau menyalahkan. Semuanya dalam tinjauan yang serba relatif saja. Secara positif mungkin suatu jenis kekhususan akan mempunyai kelebihan untuk menyetarakan dalam penanganannya dan realisasinya, maksudnya suatu kekhususan bidang keahlian tidak akan menjadi ciri khas kelebihan suatu pesantren yang patut dihargai bila itu dibiarkan berjalan sejadi-jadirnya atau menurut apa adanya. Hal tersebut berarti jika disertai dengan kejelasan rencana, ketetapan metode, kecakapan pelaksana dan kelengkapan sarana.

Tujuan pendidikan pesantren itu dimaksudkan disini adalah setiap maksud dan cita-cita itu dirumuskan secara formil (tertulis) atau hanya merupakan slogan dari kyainya saja.

Rupaya sangat sulit untuk bisa menemukan rumusan tentang tujuan pesantren, dimana rumusan tersebut bisa dijadikan pedoman bagai semua pesantren. Namun Manfred Ziemek (seorang ahli sosiologi) telah mengutip pendapat Kalnia Bhasin dan mengemukakan rumusan secara sederhana, disini secara umum tujuan pendidikan pesantren adalah sebagai berikut:

“Pendidikan dalam sebuah pesantren ditujuan untuk mempersiapkan pimpinan-pimpinan akhlaq dan keagamaan. Diharapkan bahwa para santri akan pulang ke masyarakat mereka sendiri untuk menjadi pimpinan yang tidak resmi dari masyarakatnya.”[2]

 

Rumusan tujuan pendidikan pesantren di atas merupakan sintesa dari beberapa tujuan pendidikan pesantren yang pernah dikunjungi Klania Bhasin. Rumusan tujuan tersebut ada titik temunya jika dikomparasikan dengan ayat Al-qur’an:

 

 

 

Artinya : “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”[3] (Q.S. At-Taubah: 122)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, maka dalam merumuskan tujuan atau cita-cita tentu saja searah kepada nilai-nilai Islam, baik rumusan tersebut secara formal atau hanya berupa slogan-slogan yang diucapkan oleh pengaruh pesantren. Di samping itu keberadaan pesantren juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Oleh karena itu pesan-pesan yang dapat ditangkap dari masyarakat juga merupakan pedoman dalam merumuskan tujuan pendidikan pesantren.

Dalam suatu lokakarya intensifikasi pengembangan pendidikan pondok pesantren bulan Mei 1987 di Jakarta telah merumuskan tujuan institusional pendidikan pesantren sebagai berikut:

  1. Tujuan Umum

Membina warga negara agar berkepribadian muslim dengan ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut dalam semua segi kehidupannya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.

 

  1. Tujuan Khusus

1)      Mendidik santri anggota masyarakat untuk menjadi orang muslim yang bertaqwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, ketrampilan dan sehat lahir dan batin sebagai warga negara yang berpancasila.

2)      Mendidik siswa atau santri untuk menjadi manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengembangkan syariat-syariat Islam secara utuh dan dinamin.

3)      Mendidik siswa atau santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan bangsa dan negara.

4)      Mendidik penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/ masyarakat lingkungannya).

5)      Mendidik siswa atau santri menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan khususnya dalam pembangunan mental spiritual.

6)      Mendidik siswa atau santri untuk membangun meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dalam rangka usaha pembangunan bangsanya.[4]

 

Rumusan tujuan umum dan khusus dari pendidikan pesantren sebagaimana tersebut di atas, mengharuskan pesantren untuk tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, akan tetapi pesantren harus juga memperhatikan wawasan keilmuan yang luas serta memberikan ketrampilan praktis yang dioperasionalkan oleh santri dalam kehidupannya.

 


  1. 2.      Peran dan Fungsi Pondok Pesantren

Pondok pesantren memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna daerah pedesaan. Ia tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakatnya sejak berabad-abad. Oleh karena itu, tidak hanya secara kultural bisa diterima, tapi bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan gerak serta nilai kehidupan pada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang, figur kyai dan santri serta perangkat fisik yang memadai sebuah pesantren senantiasa dikelilingi oleh sebuah kultur yang bersifat keagamaan. Kultur tersebut mengatur hubungan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

Walaupun dewasa ini jumlah pesantren di Indonesia telah tercatat kurang lebih 9.145 buah, pesantren tetap tampak lebih berfungsi sebagai faktor integrative dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena standar pola hubungan yang telah dikembangkan tersebut di atas. Itulah sebabnya sehingga keberadaan pesantren akan tetap semakin bertambah jumlahnya, berkembang dan memiliki jangkauan yang lebih luas. Sebagian besar jumlah tersebut di atas justru terletak di daerah pedesaan, sehingga ia telah ikut berperan aktif di dalam mencerdaskan bangsa khususnya masyarakat lapisan bawah dan membawa perubahan positif bagi lingkungannya sejak ratusan tahun yang lalu.

Pesantren dapat juga disebut sebagai lembaga non formal, karena eksistensinya berada dalam jalur sistem pendidikan kemasyarakatan, pesantren memiliki program yang disusun sendiri dan pada umumnya bebas dari ketentuan formal, non formal dan informal yang berjalan sepanjang hari dalam sistem asrama.  Dengan demikian pesantren bukan saja lembaga belajar, melainkan proses kehidupan itu sendiri.

Latar belakang pesantren yang paling penting diperhatikan adalah peranannya sebagai transformasi kultural yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat yang agamis. Jadi, pesantren sabagai jawaban terhadap panggilan keagamaan, untuk menegakkan ajaran dan nilai-nilai agama melalui pendidikan keagamaan dan pengayoman serta dukungan kepada kelompok-kelompok yang bersedia menjalankan perintah agama dan mengatur hubungan mereka secara pelan-pelan.

Pesantren berupaya merubah dan mengembangkan tatanan, cara hidup yang mampu menampilkan sebuah pola kehidupan yang menarik untuk diikuti, meskipun hal itu sulit untuk diterapkan seara praktis ke dalam masyarakat yang heterogen. Akan tetapi selama pimpinan pesantren atau madrasah dan peran serta para santrinya masih mampu menjadikan dirinya sebagia alternatif yang menarik bagi longgarinya nilai dan keporak-porandaan pola yang dimilikinya, akan tetapi mempunyai peluang terbaik di tengah-tengah masyarakatnya.

  1. Cara memandang kehidupan sebagai peribadatan, baik meliputi kultur keagamaan murni maupun kegairahan untuk melakukan pengabdian pada masyarakat
  2. Kecintaan mendalam dan penghormatan terhadap peribadatan dan pengabdian untuk masyarakat itu diletakkan, dan
  3. Kesanggupan untuk memberikan pengorbanan apapu bagi kepentingan masyarakat pendukungnya.

Dari penjabaran di atas, maka fungsi pesantren jelas tidak hanya sebagai lembaga pendidikan saja, melainkan juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran agama. [5]

Secara rinci fungsi pesantren dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sebagai Lembaga Pendidikan

Sebagai lembaga pendidikan pesantren ikut bertanggung jawab terhadap proses pencerdasan kehidupan bangsa secara integral. Sedangkan secara khusus pesantren bertanggung jawab terhadap kelangsungan tardisi keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya dengan dua hal tersebut pesantren memilih model tersendiri yang dirasa mendukung secara penuh tujuan dan hakekat pendidikan manusia itu sendiri, yaitu membentuk manusia mukmin sejati yang memiliki kualitas moral dan intelektual secara seimbang.

Untuk mewujudkan hal tersebut pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi), dan pendidikan formal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pikiran ulama’ fiqih, hadits, tafsir, tauhid, dan tasawwuf, bahasa Aran (nahwu, sharaf, balaqhod dan tajwid), mantik dan akhlaq. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren ikut bertanggung jawab terhadap proses pencerdasan bangsa secara keseluruhan, sedangkan secara khusus pesantren bertanggung jawab atas tradisi keagamaan (Islam) dalam arti yang seluas-luasnya. Dari titik pandang ini, pesantren memilih model tersendiri yang dirasa mendukung secara penuh tujuan dan hakekat pendidikan manusia itu sendiri, yaitu membentuk manusia mukmin sejati yang memiliki kualitas moral dan intelektual.

Sebagai Lembaga Sosial

Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membedak-bedakan tingkat sosial ekonomi orang tuanya. Biaya hidup di pesantren relatif lebih mudah daripada di luar pesantren, sebab biasanya para santri mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan jalan patungan atau masak bersama, bahkan ada diantara mereka yang gratis, terutama bagi anak-anak yang kurang mampu atau yatim piatu. Beberapa di antara calon santri sengaja datang ke pesantren untuk mengabdikan dirinya pada kyai dan pesantren, juga banyak dari para orang tua mengirimkan anaknya ke pesantren untuk diasuh, sebab mereka percaya tidak mungkin kyai akan menyesatkannya, bahkan sebaliknya dengan berkah kyai anak akan menjadi orang baik nantinya. Di samping itu juga banyak anak–anak nakal yang memiliki perilaku menyimpang dikirimkan ke pesantren oleh orang tuanya dengan harapan anak tersebut akan sembuh dari kenakalannya.

Sebagai lembaga sosial, pesantren ditandai dengan adanya kesibukan akan kedatangan para tamu dari masyarakat, kedatangan mereka adalah untuk bersilaturohim, berkonsultasi, minta nasihat “doa” berobat, dan minta ijazah yaitu semacam jimat untuk menangkal gangguan.[6] Mereka datang dengan membawa berbagai macam masalah kahidupan seperti menjodohkan anak, kelahiran, sekolah, mencari kerja, mengurus rumah tangga, kematian, warisan, karir, jabatan, maupun masalah yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat dan pelayanan kepentingan umum. Dari fungsi sosial itu pesantren nampak sebagai sumber solusi, dan acuan dinamis masyarakat.juga sebagai lembaga inspirato (penggerak) bagi kemajuan pembangunan masyarakat.

Sebagai Lembaga Penyiaran Agama (Lembaga Dakwah)

Sebagaimana kita ketahui bahwa semenjak berdirinya pesantren adalah merupakan pusat penyebaran agama Islam baik dalam masalah aqidah atau sari’ah di Indonesia. Fungsi pesantren sebagai penyiaran agama (lembaga dakwah) terlihat dari elemen pokok pesantren itu sendiri yakni masjid pesantren, yang dalam operasionalnya juga berfungsi sebagai masjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah masyarakat umum. Masjid pesantren sering dipakai untuik menyelenggarakan majlis ta’lim (pengajian) diskusi-diskusi keagamaan dan sebagainya oleh masyarakat umum.

Dalam hal ini masyarakat sekaligus menjadi jamaah untuk menimba ilmu-ilmu agama dalam setiap kegiatannya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan masjid pesantren, ini membuktikan bahwa keberadaan pesantren secara tidak langsung membwa perubuatan positif terhadap masyarakat, sebab dari kegiatan yang, diselenggarakan pesantren baik itu shalat jamaah. Pengajian dabn sebagainya, menjadikan masyarakat dapat mengenal secara lebih dekat ajaran-ajaran agama (Islam) untuk selanjutnya mereka pegang dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.



[1] M. Dawam Rahardjo, Pergulatan Dunia Pesantren, Op. Cit, hal. 6

[2] Departemen Agama, Op. Cit, hal. 74

[3] DEPAG RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta, 1986, hal. 3001-302

[4] Proyek Pembinaan dan Bantuan kepada pondok pesantren, Standarisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren, Dirjen Bimbaga Islam DEPAG RI, 1984/1985, hal. 6-7

 

[5] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS, Jakarta, 1994, hal. 59

[6] Ibid, hal.60

 

Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *