Tujuan Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Pengukuran Prestasi Manajer Pusat Laba

Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya  diberi wewenang untuk mengendalikan pendapatan dan biaya, tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran kinerja pusat laba, maka laba perlu dihubungkan dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Dengan demikian, untuk mengukur kinerja pusat laba, umumnya digunakan dua ukuran yang menghubungkan laba yang diperoleh pusat laba dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba : kembalian investasi (Return on Investment atau seringkali disingkat dengan ROI) dan Residual Income (sering disingkat RI).

                   Kembalian investasi dihitung dengan membagi laba dengan investasi. Residual Income dihitung dengan mengurangi laba dengan beban modal (merupakan persentase beban modal x investasi). Laba yang dihasilkan pusat laba ditentukan oleh komponen utama : pendapatan dan biaya. Sebagai ukuran kinerja, laba yang digunakan adalah laba yang komponennya secara signifikan dapat dipengaruhi oleh manajer pusat laba dengan menggunakan wewenang yang ia miliki. Dengan demikian timbul kebutuhan penentuan pendapatan dan biaya terkendali yang secara signifikan dapat dipengaruhi oleh manajer pusat laba.

                   Dalam  pengukuran  kinerja pusat laba, diperlukan investasi yang akan dipakai sebagai penyebut dalam rumus perhitungan kembalian investasi atau dipakai sebagai dasar untuk menghitung beban modal dalam perhitungan Residual Income. Informasi investasi atau beban modal dalam perhitungan Residual Income disebut investment base.

                   Dalam pengukuran kinerja manajer pusat laba tersedia dua alternatif untuk memperhitungkan nilai aktiva tetap kedalam investment base harga perolehan atau nilai buku tertentu. Jika nilai buku dipakai untuk memperhitungkan nilai aktiva tetap dalam investment base, setiap tahun nilai buku akan semakin menurun dengan adanya biaya depresiasi, yang mengakibatkan investment semakin mengecil. Akibatnya ukuran kinerja kembalian investasi dan Residual Income secara konstan memperlihatkan kenaikan profitabilitas, padahal sebenarnya tidak terjadi perubahan profitabilitas dalam tahun-tahun selama umur ekonomis aktiva tetap.

                   Di lain pihak, jika harga perolehan aktiva tetap (gross book value) digunakan untuk menghitung nilai aktiva tetap dalam investment base, setiap tahun nilai aktiva tetap dalam investment base, akan sama jumlahnya, sebagai kembalian investasi dan Residual Income yang memperhitungkan harga perolehan aktiva tetap dalam investment base selalu akan mencerminkan kembalian yang lebih rendah dari kembalian sesungguhnya. Jika nilai aktiva tetap yang diperhitungkan kedalam investment base adalah sebesar harga perolehannya manajer pusat laba akan termotivasi untuk menghentikan pemakaian aktiva tetap, meskipun aktiva tetapmasih memiliki manfaat, karena investment base pusat laba tersebut akan berkurang sebesar harga pokok aktiva tetap.

                   Sewa guna usaha merupakan alternatif pembelanjaan aktiva tetap, yang memungkinkan suatu divisi sebagai komponen aktiva, namun hanya memanfaatkan aktiva tetap milik perusahaan lain dalam bisnis sewa guna usaha (leasing company) dengan membayar biaya sewa guna usaha (leasing expense). Dampak sewa guna usaha terhadap pengukuran kinerja pusat laba adalah :

       a.    Unsur aktiva tetap dalam investment base menjadi kurang.

       b.    Unsur biaya depresiasi dalam perhitungan laba menjadi berkurang, namun diimbangi dengan tambahan biaya sebagai akibat dari sewa guna usaha.

         Dengan demikian, selama perubahan kedua unsur tersebut berdampak kenaikan ukuran kinerja manajer pusat laba kembalian investasi atau Residual Income bertambah, alternatif pembelanjaan aktiva tetap melalui sewa guna usaha akan menarik bagi manajer pusat laba.

  1. 1.    Manfaat Kembalian Investasi Sebagai Pengukur Kinerja

              Kembalian investasi sebagai pengukur kinerja pusat laba memiliki tiga manfaat berikut ini :

  1. Kembalian investasi mendorong manajer pusat laba menaruh perhatian yang seksama terhadap hubungan antara pendapatan penjualan, biaya, dan investasi.
  2. Kembalian investasi mendorong manajer pusat laba melaksanakan efisiensi biaya.
  3. Kembalian investasi mencegah manajer pusat laba melakukan investasi yang berlebihan didalam pusat laba yang dipimpinnya.

 

  1. 2.    Kelemahan Kembalian Investasi Sebagai Pengukur Kinerja

                        Kembalian  investasi  sebagai  pengukur  kinerja  pusat laba memiliki tiga kelemahan :

  1. Kembalian investasi tidak mendorong manajer pusat laba untuk melakukan investasi dalam proyek yang akan berakibat menurunkan kembalian investasi pusat laba, meskipun proyek tersebut menaikan profitabilitas perusahaan sebagai keseluruhan.
  2. Kembalian investasi mengakibatkan manajer pusat laba memusatkan perhatiannya kepada sasaran jangka panjang.
  3. Kembalian investasi sebagai pengukur kinerja pusat laba sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.

 

  1. 3.    Keunggulan Residual income sebagai pengukur kinerja

Residual Income memiliki keunggulan dengan kembalian investasi sebagai pengukur kinerja manajer pusat laba.

  1. Penggunaan Residual Income sebagai pengukur kinerja pusat laba mengakibatkan semua pusat laba memiliki sasaran laba yang sama untuk investasi yang sebanding.
  2. Residual Income dengan menggunakan tarif beban modal yang berbeda untuk aktiva yang memiliki risiko yang berbeda.

 

  1. 4.    Kelemahan Residual Income

              Sebagai tolok ukur kinerja pusat laba, Residual Income memiliki kelemahan sebagai berikut :

  1. Seperti halnya dengan kembalian investasi, Residual Income juga hanya mendorong manajer pusat laba memusatkan orientasinya ke tujuan jangka pendek, karena laba dan komponen yang digunakan untuk menghitung laba hanya dibatasi dengan periode akuntansi yang tidak lebih dari satu tahun kalender.
  2. Seperti halnya dengan kembalian investasi, Residual Income sebagai pengukur kinerja pusat laba sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.
  3. Tidak seperti halnya dengan kembalian investasi yang berupa ratio atau prosentasi, Residual Income berupa angka absolut, yang tidak dapat digunakan membandingkan kemampuan berbagai pusat laba dalam menghasilkan laba.
Tujuan Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Pengukuran Prestasi Manajer Pusat Laba | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *