Usaha-usaha Mengatasi Terjadinya Anak Putus Sekolah

Setiap orang tua pada dasarnya menghendaki agar anak dapat belajar di sekolah sampai di perguruan tinggi. Untuk itu dalam mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya berbagai usaha pencegahannya sejak dini, baik yang dilakukan oleh orang tua, sekolah (pemerintah) maupun oleh masyarakat. Sehingga anak putus sekolah dapat dibatasi sekecil mungkin.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah seorang anggota masyarakat (Imum Meunasah) Desa Punjot, mengemukakan bahwa: “untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah harus adanya kesadaran dari orang tua untuk menyekolahkan anak, dalam hal ini tokoh masyarakat yang disegani diharapkan bisa menyadarkan orang tua anak akan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak nantinya. Karena orang tua telah mengecap banyak asam garamnya kehidupan dengan tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan keahlian dalam bekerja. Oleh karena itu oleh orang tua harus mengusahakan masa depan anak-anak lebih baik dari pada keadaannya sekarang. Karena dalam agama sendiri telah dinyatakan bahwa Allah Swt akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya:

يَرْفَعُ اللهُ الَّذِيْنَ أَمَنُوْامِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْ الْعِلْمِ دَرَجَاتِ … (المجادلة:11)

Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kamu”. (QS. Al-Mujadilah: 11)”.

Dengan demikian, dapat di pahami salah satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan anak demi menjamin masa depannya dan dapat meneruskan cita-cita orang tuanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada orang yang memperoleh jabatan atau pangkat yang tinggi dengan tanpa adanya pendidikan sebagai modalnya.

Dalam mencegah anak dari putus sekolah orang tua perlu juga memberikan dorongan (motivasi) kepada anak dalam belajar dan memberikan bantuan kalau ada kesulitan belajar yang dialami anak. Hal ini pernah di kemukakan oleh Bapak Kepala Desa Meunasah Dua, yang mengatakan bahwa: “apabila anak tidak pernah memperoleh dorongan semangat dari orang tuanya, maka anak akan merasa bosan dalam belajar. Dorongan yang diberikan orang tua dapat berupa hadiah yang dijanjikan kalau anak dapat mencapai suatu nilai tertentu. Kemudian apabila anak mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua perlu memberikan bimbingan dan bantuan dalam mengerjakannya, sehingga anak tidak merasa kesulitan dalam belajar dan takut ke sekolah karena tidak selesai membuat pekerjaan rumah”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa salah satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan adanya dorongan dan bantuan dari orang tua kepada anak sehingga anak lebih bersemangat untuk sekolah dan senang mengerjakan pekerjaan rumah karena orang tuanya ikut membantu mengerjakannya apabila ada yang tidak dapat dikerjakannya.

Untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga perlu adanya pengawasan dari orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar anak. Sebagaimana pendapat yang di kemukakan oleh seorang masyarakat Desa Bugak Mesjid, yang mengatakan bahwa: “Sudah menjadi kebiasaan anak apabila tidak mendapat pengawasan, ia akan suka melanggar aturan atau kadang-kadang tidak masuk sekolah. Dan jika sering tidak masuk sekolah maka akan mempengaruhi terhadap nilai rapornya atau jika anak tidak masuk sekolah akan dihukum oleh guru. Akibatnya bila anak sering mendapat hukuman akan membuat anak takut dan bisa jadi tidak mau sekolah lagi”.

Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah, maka pada anak di sekolah memerlukan pengawasan dari orang tuanya. Sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk tidak ke sekolah dan bermain-main dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Pengawasan dapat juga dilakukan oleh orang tua di rumah dengan memeriksa hasil kegiatan belajar anak pada hari itu, apabila tidak ada kegiatan yang ditulis berarti anak tidak masuk sekolah. Pergi ke sekolah hanya sekedar hilang dari rumahnya atau takut dimarahi orang tuanya. Dalam hal ini orang tua juga seharusnya memperhatikan keadaan teman-teman bermain anak jangan sampai dipengaruhi oleh temannya untuk tidak masuk sekolah.

Usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membiarkan anak untuk bekerja mencari uang sendiri, karena hal ini dapat melalaikan anak untuk sekolah. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Desa Meunasah Dua adalah: “Untuk menghindari anak malas sekolah atau putus sekolah maka orang tua jangan membiarkan anak untuk bekerja atau cari uang sendiri pada umur sekolah. Karena dengan banyak uang sendiri anak akan lupa belajar bahkan malas sekolah dan akhirnya tidak mau sekolah lagi. Dan anak menganggap sekolah itu tidak pernah memberikan uang atau sekolah tidak pernah menjanjikan pekerjaan setelah tamat belajar. Apabila anak punya uang bisa jadi orang tuanya sudah kurang berharga di matanya. Karena apabila diusir d ari rumah ia sudah bisa cari makan sendiri”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa dengan membiarkan anak mencari uang sendiri dalam waktu belajar dapat membuat anak harus memilih mana yang lebih mudah dan lebih enak untuk masa sekarang. Yaitu lebih mementingkan uang dari pada sekolah sehingga lebih cenderung meninggalkan bangku sekolah. Untuk menghindari hal itu orang tua perlu mengatasinya dengan tidak membiarkan anak bekerja pada usia belajar. Pada saat itulah orang tua harus berusaha dengan sekuat tenaganya untuk membiayai sekolah anak dan tidak mempekerjakan anak di waktu sekolah.

Di sisi lain apabila anak sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang jajan di sekolah juga dapat mengakibatkan anak malas belajar. Bahkan sering tidak masuk sekolah dan pergi bermain bersama teman-temannya, apalagi anak yang mempunyai motor dan mempunyai uang banyak ia bebas pergi ke mana saja. Hal ini pernah di kemukakan oleh Kepala Desa Punjot, bahwa: “Anak putus sekolah bukan terjadi pada keluarga miskin yang tidak mampu membiayai pendidikan anaknya, tetapi putus sekolah juga bisa terjadi pada anak keluarga kaya yang sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang jajan”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa memberikan uang jajan yang berlebihan juga dapat mengakibatkan anak putus sekolah. Di samping itu orang tua juga harus memberikan uang jajan yang cukup pada anaknya supaya si anak bergairah dalam belajar di sekolah.

Dari berbagai hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa usaha-usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah di antaranya dapat di tempuh dengan cara:

  1. Membangkitkan kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan anak
  2. Memberikan dorongan dan bantuan kepada anak dalam belajar
  3. Mengadakan pengawasan terhadap di rumah serta memberikan motivasi kepada anak sehingga anak rajin dalam belajar dan tidak membuat si anak bosan dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan di sekolah.
  4. Tidak membiarkan anak bekerja mencari uang dalam masa belajar.
  5. Tidak memanjakan anak dengan memberikan uang jajan yang terlalu banyak.
Usaha-usaha Mengatasi Terjadinya Anak Putus Sekolah | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *